Jumat, 11 November 2011

Special For my sweet assisten

hari ini tanggal bagus. banyak sekali orang yang berharap dunia akan seindah tanggal ini. 11.11.11. hari ini juga spesial buat lu. gue juga yakin suatu saat lu bakal liat thread ini. cuma mau ngejelasin, sengaja gak ngucapin tepat pkl 00.00 karna emg mau ngasih surprise siang nanti :D SELAMAT ULANG TAHUN LUTHFIA RACHMI cuma gengsi buat blg takut kalo lu resign :p semoga harapan yg udah lu susun terwujud. amin berkurang ya camennya \(‘o’ )/

Kamis, 03 November 2011

Terlambat Menyadari


Hari itu aneh, belum habis kekesalanku karena “Meo” sahabatku yang setia menemaniku kuliah masuk “rumah sakit”, aku malah bertemu dengan pria aneh saat aku memarkir “beatom” di pelataran rumah. Pria itu berperawakan pendek, berkulit sawo matang dan memakai pakaian yang membuat dahi mengernyit serta mata memicing. Pakaiannya begitu ‘ramai’ dengan butiran-butiran hiasan bertuliskan AR. Entah apa artinya, mungkin singkatan namanya atau mungkin kekasihnya. Namun belakangan aku tahu, AR itu bukan singkatan dari namanya. Ya sudahlah, mungkin itu nama singkatan kekasihnya. Aku tidak mau ambil pusing tentang itu. Apalagi aku sendiri sedang dikuasai oleh kemarahan yang bodoh.

Kemarahanku semakin menjadi-jadi, pria itu terus saja mengikutiku. Semakin aku menghindar maka semakin gencar juga ia membuka pembicaraan denganku. Huh, aku menyerah untuk menghindarinya. Dia semakin nekat saja. Dengan setengah hati, akhirnya aku meladeninya ngobrol. Namun, arah obrolannya semakin tidak aku pahami. Dia menceritakan sesuatu yang tak lazim dan sulit aku percayai.

Di suatu ketika, saat belum lama aku meresponnya, ia bercerita tentang pekerjaannya. Pekerjaan yang benar-benar tidak pernah aku tahu apalagi temui. Hanya darinyalah aku tahu bahwa ada pekerjaan semacam itu. Aneh. Aku kira, dia hanya seorang pemalas yang kerap aku temui saat makan dipinggir jalan. Mereka bercerita dan berharap dikasihani, setelah itu akan diberi uang. Tapi dia berbeda.

Semakin lama, keanehan itu mencair, aku semakin tertarik dengan ceritakannya. Ia bercerita tentang aku, masa aku masih jadi segumpal darah dalam ruang hangat penuh cinta. Aku tidak ingat itu, tapi dia? Dari mana dia tahu semua itu? Siapa dia? Dia saudaraku? Ah, aku semakin bingung dibuatnya.

Dia mulai bercerita lagi tentang profesinya, tentang peraturan-peraturan yang tertata rapi dalam kata-kata. Entah peraturan itu sama seperti peraturan-peraturan di negeriku yang tinggal raga tanpa nyawa pengamalannya, atau bahkan peraturan yang representative untuk dicontoh. Aku selalu bingung kalau mengingatnya, bayangkan saja, dia bilang di tempat asalnya telah dikeluarkan Surat Keputusan No. 89.799-XXII tahun 2,3 M tentang pembentukan Satuan Tugas Pengembalian Kepercayaan Dan Sakralitas Alam Rahim. Peraturan macam apa itu? Kemarahanku yang tadi memuncak berubah menjadi kebingungan yang ujungnya nanti jadi kegalauan. Biasa anak muda, apapun yang dialami pada akhirnya menjadi kegalauan.

Lebih jauh, dia menceritakan tentang urutan perkembanganku selama dalam kantung rahim Mama, bagaimana perjuangannya hingga aku bisa melihat dunia dan mengawalinya dengan tangisan. Dia tahu, aku bingung.

Mungkin dia sadar akan kebingunganku, tiba-tiba dia berkata. “Kamu memang gak bakal ingat, karena kamu lewat terowongan Vaghana pas lahir,” katanya.
“Terowongan Vaghana?” tanyaku spontan.
“Iya, terowongan dengan cairan kental yang membuat semua ingatanmu tentang alam rahim terhapus,” jawabnya dengan senyum.

Dia juga mengingatkanku tentang pria tua yang membawa buku besar, yang bertanya padaku saat masa peralihanku dari alam ruh ke alam rahim. Kira-kira usiaku empat bulan dalam kandungan waktu itu. Aku benar- benar lupa, tapi dia berusaha mengingatkanku. Katanya lelaki tua itu banyak bertanya padaku, bertanya tentang kesiapan dan janjiku yang harus patuh pada Raja Semesta dan peraturan yang telah dikukuhkan di Kerajaan Semesta. Sekuat apapun dia mengingatkanku, aku tetap tidak ingat. Namun, ada sesuatu dalam diriku yang mengamini penjelasan itu. Hal tersebut yang membuatku tetap bertahan diposisiku dan masih setia mendengar cerita pria itu.

Ceritanya terjeda, aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum dan beberapa makanan untuk pria aneh tersebut. Seperti sudah tahu aku akan mengambilkannya minum, dia memesan kepadaku untuk menyuguhkan minuman berwarna yang dingin. “Hari ini terik sekali,” ujarnya memberi penjelasan tentang minuman yang dipilihnya.

Kembali dari warung, karena tidak ada minuman berwarna di rumahku, pria itu melanjutkan ceritanya. Panjang lebar dia bercerita tentangku, ya… tentangku. Aku masih heran, bagaimana dia bisa lebih tahu tentangku dibanding aku sendiri. Apa ini yang dinamakan krisis jati diri? Aku kurang mengerti masalah apa tadi itu yang aku bilang? Oh.. iya krisis jati diri. Aku kurang mengerti, nanti deh aku tanya-tanya sama temanku yang lebih mengerti itu.

Yang paling unik dari ceritanya adalah ketika dia bercerita bahwa aku pernah bertemu dengan Kucing Yang Bisa Berbicara, Ikan Mas Yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Professor Waktu, Mahavatara dan terakhir Nenek Olav. Semuanya begitu unik, apalagi pesan yang mereka sampaikan secara tersirat maupun tersurat.

Seperti Kucing yang bisa berbicara itu, dia mengajariku tentang tujuan hidup. Menyarankan padaku untuk selalu mempunyai rencana yang matang sebelum melakukan perjalanan, mengambil keputusan yang tepat. Atau ikan mas yang bekerja sebagai koki dengan menu andalannya paralea, dia meyakinkanku untuk selalu peka akan rasa. Karena menurutnya, dalam ukuran tertentu rasa yang enak dan awalnya jadi favorit bisa berubah menjadi rasa yang tidak enak.

Ada lagi, Amadeus sang komposer handal yang menghimbauku untuk selalu mendengarkan, menangkap makna dibalik suara-suara yang terdengar. Hhmm.. yang jadi favoritku memang si gadis buta penunjuk jalan itu, Aynu. Meskipun buta dia mampu menunjukkan jalan keluar dari labirin. Hebat bukan? Tapi yang lebih hebat lagi dia mengisyaratkan padaku untuk mematikan mata dan menyalakan hati.

Masih ada professor waktu yang memarahiku karena boros waktu, ya.. aku memang harus lebih hemat waktu. Kemudian Mahavatara, seorang yang tampan dan berwibawa yang mengajarkanku tentang budi pekerti. Yang terakhir Nenek Olav, dia mengoleksi Koran-koran hanya untuk melihat kabar baik di dalamnya. Meyakinkanku bahwa kebaikan akan selalu ‘menang’. Begitu pesan yang bisa aku tangkap dari cerita pria aneh tadi.
Pria aneh itu tetap semangat meskipun panas matahari membakar kulitnya yang memang sudah hitam. Dia meneruskan ceritanya, membuatku ingin berteriak dan menyesali kesia-siaan hidupku selama ini. Selain itu, membuatku bersyukur karena dilahirkan di tengah keluarga yang menginginkanku lahir di dunia.

Dia menceritakan tentang bayi-bayi yang tak berdosa yang karena keberadaannya tidak diinginkan maka dibunuh dengan cara diaborsi. Aku jadi merasa bersalah pada Mama, karena tiga hari lalu tega mendiamkannya hanya karena tubuh rentaku yang aku rusak sendiri dengan tidak dibolehkan istirahat. Maaf ya ma. Aku juga merasa bersalah pada Ayah, meskipun terlihat cuek dan tidak peduli, sebenarnya aku tahu dia sangat amat khawatir padaku. Aku jadi ingat pesan Ayah waktu aku sering pulang malam. “Kak, kalo pulang malam terus bannya bocor langsung pulang aja ya. Gak usah ditambal, takut ada yang ngawasin,” begitu katanya. Ah.. aku durhaka karena terlalu egois mengutamakan alasanku sendiri.

Tiba waktunya pria aneh itu menceritakan tentang kelahiranku, waktu itu hari jumat. Tepat usai para pria muslim menunaikan ibadah shalat jumat. Waktu pertaruhan antara hidup dan mati yang dialami Mama. Saatnya aku harus ucapkan selamat tinggal pada alam rahim, melewati terowongan Vaghana yang seketika menghilangkan ingatanku selama di alam rahim.

Raut muka pria itu sedih, dia bilang sendiri kalau dia sedih. Karena dengan menceritakan tentang kelahiran, itu artinya dia akan menamatkan ceritanya tentang alam rahim. Dengan kata lain, ia harus pamit dan tidak akan bertemu lagi dengan kliennya.

Dan saat itu tiba, dia telah usai bercerita tentang kelahiran. Setelah menghabiskan teguk minumannya yang terakhir, pria itu berpamitan dan tugasnya selesai. Dengan langkah yang terpincang-pincang dia mulai hilang dari pandanganku. Aku mengucapkan terimakasih atas cerita menariknya.

Kini, setelah beberapa hari pria itu tidak mendatangiku lagi, aku baru sadar. Jangan-jangan dia Dakka Madakka yang di ceritakan oleh juru dongeng Fahd. Perawakannya sama, ceritanya pun senada. Ya Tuhan.. aku terlambat menyadarinya. Ternyata dia adalah Dakka, si pengabar berita dari alam rahim. Maaf ya karena aku sempat sangsi pada ceritamu Tuan Dakka.


Dikutip dan disarikan dari Novel Rahim Karya Fahd Djibran.

Senin, 17 Oktober 2011

Jawaban


Mungkin ini hanya sedikit intermezzo dari kepenatan rutinitas saja. Tapi kini aku ingin membahana memperluas lagi angan-angan yang mungkin tidak pada tempatnya.
Hahahaha bolehlah aku atau bahkan kalian tertawa karenanya.
Dari sembilan mata kuliah yang harus aku jalani semester ini, entah mengapa hampir semuanya menanyakan “Cita-Cita”. Hal yang sangat familiar ditelinga, bahkan sejak duduk di sekolah dasar. Pertanyaan itu tidak perlu lagi aku pikirkan, hanya tinggal menjawabnya saja.
Tapi, ada keraguan saat ini yang hadir ketika pertanyaan itu dilayangkan padaku. Mungkin benar kata seorang teman yang mengejekku karena bingung dengan cita-citaku sendiri. “Suram hidup lu gak punya cita-cita.”
Bukan, bukan karena tak ada bayangan sedikitpun yang melintas ketika pertanyaan itu lagi lagi memenuhi ruang pikiranku. Saat ini bukan lagi dilatar belakangi hobi maka aku memilih cita-cita. Tapi lebih kepada kebaikan-kebaikan serta keburukannya, kemudian skill ku. Aku pernah beberapa kali membaca buku yang isinya menganjurkan untuk membagi semua rasa ke setiap makhluk. Aku ingin sekali menjadi penebar kebaikan, tapi apa mediaku?
Aku juga pernah ingin menjadi penyambung lidah untuk orang-orang yang tertindas, tapi skill ku?
Aku tetap belajar untuk itu.
Pernah suatu ketika aku menangis, menangis yang berlebihan. Mungkin amat sangat berlebihan dan pertama kalinya aku lakukan didepan orang lain. Ada rasa yang mendorongku untuk mencurahkannya saat itu juga. Bukan karena kebencianku pada orang yang membuatku menangis, tapi kebencianku pada diriku sendiri yang tidak mampu berbuat apapun. Bahkan untuk membela diriku sendiri. Menyedihkan.
Bagaimana aku bisa membawa kebaikan untuk orang lain, sedangkan untuk diriku sendiri saja aku masih merabah. Tidakkah orang lain lebih iba melihatku?
Sebuah pledoi yang luar biasa memalukan.
Bukan karena takut dikatakan tidak konsisten karena merubah cita-citaku, menurutku hal itu lazim saja dilakukan. Tapi, aku tetap pada cita-cita masa kecilku. Menjadi seorang penulis.
Dengan menulis aku mampu mengabarkan kehidupanku kepada orang-orang setelahku nanti. Mungkin anakku, cucuku, cicitku atau bahkan keturunanku yang ke-7?
Aku mampu mengabarkan kepadanya, bahwa aku ada. Dan mereka bisa mengenalku lewat itu, tulisanku. Tentu saja beriringan dengan terus belajar “menulis”.
Prihal berbagi kebaikan, aku juga mampu melakukannya melalui tulisan. Bukankah banyak pengetahuan yang lahir dari bacaan, sekalipun bacaan tidak penting layaknya tulisan ini?
Hahaha, terlalu banyak tanda tanya dalam tulisan ini. Pada intinya, jika ada yang bertanya padaku tentang cita-cita, maka penulis lah cita-citaku.
Cita-cita….. bukan profesi :)

Selasa, 11 Oktober 2011

PLESIR

Pengalaman yang luar biasa, gak terlupakan dan ninggalin sesuatu yang sama luar biasanya disini.
Seminggu yang membuat gue pengin kembali lagi, Solo... Jogja.




Semuanya ngasih sesuatu yang membuat asa, kekaguman dan pelajaran tentunya °/(´▽`)/°
Meskipun kesana bukan buat liburan tapi itu sangat menyenangkan.
Emang sih, ini bukan kali pertama gue kesana.
Orang-orang disana bikin kangen karena semuanya baik-baik banget.
Disana gue belajar menghargai, tolong-menolong, ramah-tamah dan banyak lagi.

Banyak banget kemudahan yang dikasih Allah saat gue dan team disana.
Mulai dari tuan rumah yang amat sangat baik sampai warga sana yang kurang lebihnya membantu tugas yang harus diselesaikan disana. Thanks Full everybody.
Semoga waktu mempertemukan kita lagi (´▽`)

Dan sorotan mata indah itu buat gue makin kangen, kembali........

Sabtu, 17 September 2011

aku, kamu, KITA


Suatu hari nanti, kamu akan tau bagaimana rasanya berada di posisi ini...
Suatu saat nanti, kamu juga akan merasakan bagaimana rasanya seperti ini...
Jika saatnya telah tiba, ceritakan padaku bagaimana rasanya?
Kita akan bertemu lagi nanti :)
Aku juga akan menagih janji yang mungkin kamu telah lupakan.
Tapi sayangnya KAMU disini bukan untuk satu orang saja, yang kemungkinan aku juga akan lupa siapa yang dimaksud dalam tulisan ini. hahahaha
LUPAKAN SAJA!

Jumat, 09 September 2011

GAMANG berteman GALAU

Sebenarnya saya paling benci berada dikeadaan ini, tidak berawal namun sulit tuk mengakhiri.

Tidak pernah ada niatan saya untuk berada di tengah tengah keadaan yang sangat runyam dan memposisikan saya pada tempat yang sebenarnya tidak saya mengerti sama sekali. Lalu, saya harus bagaimana?

Saat ini, saya terlihat seperti pemeran antagonis yang menyudutkan sesama gendernya. Padahal saya tidak pernah berbuat apapun yang membuat saya mengintimidasi sesama gender. Berbicara tentang salah dan benar, saya merasa benar ketika saya memposisikan sebagai teman dan mendengarkan setiap cerita serta memberi sedikit masukan. Namun, ini terlihat salah ketika persoalan mulai menguak dan berada pada level yang lebih complicated lagi. Saya tetap menyalahkan perbuatan yang saya anggap salah. Tapi lagi lagi saya tetap terkena imbasnya, saya pun mengerti dan coba menerima itu.

Mungkin benar saya salah, dengan menjawab seadanya yang saya tahu ketika ditanyakan hal yang sedikit saya tahu, atau saya harus pura pura bodoh ketika dihadapkan pada hal yang saya sedikit tahu?
Yang pasti saya merasa tidak pernah menyudutkan seseorang dan membuatnya berada pada keadaan terpuruk. Saya selalu mengingatkan seseorang untuk memikirkan kembali setiap tindakannya yang saya anggap terlalu egois. Saya juga selalu memposisikan diri sebagai sesama gender yang pasti merasakan hal yang sama ketika diperlakuakan seperti itu. Entah mengasihani diri sendiri atau orang lain, yang pasti saya merasakan feel yang sama ketika saya menjadi pendengar yang baik.

Lewat ini, saya meminta maaf atas kesalahan yang kalian anggap salah. Kalian saudara saya, jadi tak ada sedikit pun niat saya untuk membeda-bedakan. Semuanya sama, benar jika benar dan sebaliknya.

Kamis, 08 September 2011

Fiktif

Pernah membohongi diri?
Saya rasa banyak orang yang melakukan hal bodoh itu.
Entah apa pertimbangannya sehingga banyak orang yang melakukannya.
Ada seorang teman saya yang melakukan kebodohan yang tidak pernah saya duga sebelumnya.
Sebut saja namanya Wira.

Saya tahu persis, Wira sudah lama suka sama sahabatnya, Anti namanya.
Saya tahu perasaan Wira karena Wira pernah mengungkapkan sendiri alasannya menyukai sahabatnya itu.
Suatu ketika, ada candaan Wira yang membuat Anti tertarik untuk menjalani ide bodoh tersebut.
"Eh...Kita buat gencar satu sekolah yuk Ti?"
"Gimana caranya?"
"Hahahaha, gampang kali. Kita pasang aja status in relationship di jejaring sosial," Ujar Wira menggebu.
"Ah males ah, nanti fans fans gue pada kecewa lagi," tolak Anti sambil bercanda.
"Yeeeh, ini malah bakal nguntungin lu kali. Lu bakal bisa ngeyakinin mantan lu kalo lu tuh udah ga ada rasa lagi sma dia," Wira meyakinkan.
Akhirnya Anti pun setuju dengan rencana gila itu.

Prediksi Wira memang benar, semua temannya geger dengan status berpacaran meraka. Tapi tidak dengan mantan Anti, dia memang sedikit kaget. Namun, dia tidak mudah percaya dengan status tersebut. dan kalaupun memang mereka benar-benar jadian, gak masalah pikirnya. Toh mereka sudah saling mengenal lama, dan tak ada alasan lagi untuk Deni (mantan Anti) untuk melarangnya.

Semua kebohongan ini terus berjalan, lambat laun Deni sudah mengikhlaskan Anti untuk Wira. Tapi bukan hanya orang orang itu yang dibohongi oleh Wira dan Anti, hati Wira, perasaan Wira juga dibohongi. Sebenarnya Wira tahu persis, bahwa undangan berpacarannya memang benar-benar datang dari hati.
Hanya saja Anti kurang peka untuk mengetahui kebenaran itu. Sekarang tinggal Wira saja yang terpontang panting untuk mengingatkan asanya bahwa semua ini hanya cerita rekayasa yang dibuatnya.

Entah dengan apa dia meyakinkan dirinya sendiri, kebohongannya bukan hanya menyakiti orang lain tapi juga menyakiti diri sendiri. Belum lagi bagaimana tanggapan orang banyak yang sudah berharap banyak dengan status mereka jika mereka mengetahui bahwa ini hanya bualan iseng yang menyakitkan. Hanya ada 2 pilihan untuk Wira dan Anti, terlebih Wira. Membenarkan hubungannya dengan Wira jujur atas semua rasa yang dirasakan untuk Anti, atau berjiwa besar dengan jujur pada semua orang termasuk Deni, yang konsekuensinya adalah mengurangnya rasa respect terhadap mereka berdua.

Saya rasa, setiap keputusan adalah resiko :)