Kamis, 19 Juli 2012

Always On (Think Again)

Akhir-akhir ini, pasti ga asing dong ya sama iklan ini. Ya, Always On dari Three.
Kata-katanya itu loh, ngena banget sama yang ada sekarang. 
Kebebasan yang Aneh, Palsu, Ilusi, Fantasi, Lucu tapi juga nyata.

ini versi cewenya 




Kebebasan itu omong kosong.
Katanya, aku bebas berekspresi.
Selama rok masih dibawah lutut.
Hidup ini singkat.
Mumpung masih muda, nikmati sepuasnya.
Asal, jangan lewat dari jam sepuluh malam.
Katanya, urusan jodoh sepenuhnya ada ditanganku.
Asalkan sesuku, kalo bisa kaya, pendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik.
Katanya, jaman sekarang pilihan itu gak ada batasnya.
Selama ikutin pilihan yang ada.
Always On, bebas itu nyata.

ini Versi Cowoknya



Kebebasan itu omong kosong.
Katanya, bebas berteman dengan siapa aja.
Asal orang tua suka.
Katanya, jadi laki-laki itu jangan pernah takut gagal.
Tapi, juga jangan bodoh untuk mengambil risiko.
Mendingan cari kerja dulu, cari pengalaman.
Katanya, urusan jodoh sepenuhnya ada di tangan.
Asalkan dari keluarga terpandang, gak cuma cantik tapi juga santun, berpendidikan.
Katanya, jaman sekarang pilihan itu gak ada batasnya.
Selama, ngikutin pilihan yang ada.
Always on, Bebas itu nyata.

video di ambil dari sini.

Rabu, 11 Juli 2012

Untuk Muhammad Fahsya Al-Aziz



Hallo Fahsya, apa kabarmu hari ini sayang?
Mungkin saat kamu sudah bisa membaca sendiri postingan ini, kita sama sama sudah pada keadaan yang berbeda. :)
Kamu pasti tambah ganteng, dan aku selalu suka :)

Fahsya, saat ini dan sampai nanti, kamu akan selalu jadi anak yang beruntung. Berlimpah kasih sayang dari kami, dari aku, kakak cindy, Mama Nenek, Kokong, Ayahmu, Bundamu, semua orang yang kenal kamu.
Meskipun kamu sedikit lebih aktif dibanding anak seusiamu, kami gak pernah menganggapmu nakal.
kami selalu yakin, bahwa itu hanya bagian dari cara ingin tahumu.

Fahsya sayang, kamu masih ingat panggilan kesayangan kami untukmu?
Iya, Acha atau terkadang Chacha.
Walau seperti panggilan anak perempuan, Tapi Ayahmu selalu mengajarimu untuk menjadi pria.

Kamu tahu nyanyian candaan yang dinyanyikan bundamu saat kamu bayi?
sedikit aku nyanyikan ya, tapi kamu jangan ketawa (meskipun sangat lucu)
           "Acha aciong, teng paling kewen sedagat wawa. Acha aciong," hehehehe
Kamu tahu betapa  Bundamu sayang sama kamu.

Fahsya, kamu sering banget minta maaf ke bundamu saat kamu rasa kamu melawannya.
          "Bunda, maapin aku ya bunda. Aku sayaaaaaang banget sama Bunda,"
itu kata-katamu sayang. Aku Lucu bercampur haru mendengarmu mengatakan itu pada Kakakku, Bundamu.

Fahsya, Mama Nenekmu sangat sangat menjadikanmu alasan kebahagiaannya.
Setiap kamu berkunjung ke rumahnya, apa yang kamu mau selalu diberinya. Bahkan Ayahmu memarahi Bundamu karena membiarkan Mama nenek memberimu mainan setiap kali kamu Kesini.
Aku mendengar percakapan mereka saat Ayahmu menelpon.

Kokongmu, Karena kamu Anak Laki-Laki yang sangat diidam-idamkannya. Kamu juga pasti bisa menerka bagaimana Kokongmu mencintaimu.
Ingat Kado yang dibelikannya saat kamu berulang tahun ke-3?
Mobil-mobilan yang menurutku cukup mahal. Itu hanya untukmu sayang. :)
Dia yang tak pernah marah kamu merusak semua barang-barang kesayangannya.
Dia yang selalu merontokkan sifat kerasnya di hadapanmu.

Kakak Cindy. Ya, kamu mengharuskan kami memanggilnya begitu. Meskipun berulang kali aku menjelaskan padamu bahwa dia adikku, tidak apa-apa jika ku memanggilnya dengan nama saja. Kamu (tetap) marah.
Dia yang selalu membuatkanmu susu setiap 20 menit sekali.

Fahsya, masihkah kamu menggemari film film kartun?
menontonnya tanpa berkedip?
menguasai televisi?
masihkah kamu menganggap dirimu spiderman?
bernyanyi kegirangan sambil memamerkan lesung pipimu?
bercita-cita menjadi rubah seperti naruto?

Fahsya, Kamu anak yang pintar. Kami selalu bangga padamu.


Jakarta, 11 Juli 2012
Kakak Tata

Selasa, 10 Juli 2012

Mengulik Si Jago yang Kreatif


Creative Writhink itu AHA Moment
Oleh Sinta Novizah


Riuh suara diskusi telah terdengar memenuhi gedung Gramedia Blok M di Selatan Jakarta, namun di mana jelasnya masih dicari-cari. Dengan bantuan seorang karyawan toko buku tempat suara itu berasal, akhirnya saya menemukan yang sejak tadi dicari. “Coba naik ke lantai tiga,” intruksinya. Dengan nafas agak terengah, lantai tiga pun terjamahi. “Keprihatinan tentang Tuhan,” Seorang pria melontarkan jawabannya, entah jawaban untuk pertanyaan apa. Ada tiga orang yang duduk di depan sana, dua pria dan seorang wanita yang mengkomandoi acara bedah buku tersebut.

Saat sedang asik bercakap-cakap, mendadak protes dari salah satu pria yang duduk di sofa nyaman itu. “Tunggu yang dari Cipete dulu,” pengumuman itu menjeda Fahd Pahdephie untuk menjawab pertanyaan yang dilayangkan lagi padanya.

Tawa pun pecah seketika. Fahd Pahdepie, Seorang peneliti yang dengan karyanya mencoba untuk mengubah paradigma setiap orang yang membaca bukunya. Meluruskan tentang tulisan fiksi yang masih dipandang sebelah mata. Waktu pun berjalan beriringan, satu per satu sesi terlewatkan. Nah, tiba saatnya obrolan lebih intim dibuka. Jabat tangan dilumuri ramah senyum tampil dalam raut muka Fahd Pahdephie yang ramah. “Oh iya, kita udah janjian ya,” katanya membuka percakapan.

Sambil menarik kursi yang berada paling belakang, Fahd Djibran, nama pena dari Fahd Pahdephie membuka percakapan tentang Creative Writhink. Menurutnya Creative Writhink bukanlah hal yang baru, hanya saja belum ada nama untuk istilah tersebut. “Saya gak bisa bilang kalau ini punya saya, walaupun saya yang pertama kali mengenalkannya,” jawab pria yang lahir di Cianjur, 25 tahun silam itu.

Masih dengan suasana yang bising dan kursi-kursi yang mulai tak bertuan, pria yang menjadi salah satu nominator dalam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa bidang kreatif ini mulai menambahkan penjelasan Creative Writhink yang menjadi pedoman di setiap karyanya. Creative Writhink adalah memberikan nilai lebih pada tulisan sehingga orang lain tertarik untuk membacanya serta mendapatkan imajinasi baru. “Gak mesti terpaku pada format tulisan dan kebiasaan, tapi menghadirkan bentuk-bentuk baru,” tutur Fahd, biasa ia disapa, yang saat itu ditemani oleh keluarga dan rekan kerjanya.

Senja yang semakin menua menemani alumnus Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menjelaskan lebih dalam. Creative Writhink itu AHA moment, yaitu membentangkan karya tidak untuk menggurui tetapi untuk membangkitkan pengetahuan dibawah sadar. “Karya yang berhasil itu adalah karya yang berhasil mengangkat ingatan di bawah sadar,” ucap bapak dari satu orang putra ini.

Membuka seribu imajinasi bagi pembaca adalah tugas dari penulis Creative Writhink, caranya dengan membebaskan tulisan, tidak terpaku pada format serta ‘rajin’ bereksperimen. Begitu kata penulis terbaik DAR! Mizan Unlimeted Creativity Award tahun 2006 itu.

Suara petikan gitar nampaknya mengagetkan Fahd yang spontan menoleh ke suara itu berasal. Biasanya tema yang melatar belakangi setiap karyanya tidak jauh dari empat tema yang menurutnya mampu membawa perubahan dunia di masa depan, yaitu kaum muda, perempuan, spiritualizm dan komunitas.
Seperti  A Cat In My Eyes, Curhat Setan, Rahim, Menatap Punggung Muhammad, Yang Galau Yang Meracau, Qum! dan Hidup Berawal Dari Mimpi. Lantas hal tersebut tak membuatnya mau disebut sebagai penulis. “Pekerjaan saya bukan penulis, saya menulis untuk berkreativitas,” papar Fahd yang pernah menjadi wakil indonesia untuk pertukaran tokoh muda muslim Indonesia-Australia.

Lahir di keluarga akademisi membuatnya gemar membaca dan menulis. Perihal inspirasi menulis, Fahd mendapatkannya dari berbagai cara, mulai dari membaca banyak buku, diskusi, mendengarkan lagu sampai ngobrol-ngobrol ringan.

Obrolan terjeda, suasana toko buku yang tadinya ramai kini mulai ditinggalkan pengunjung. Fahd pun lebih jauh masuk ke masa ia mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Darul Arqam Muhammadiyah, Garut. Disana ia mulai lebih mengembangkan kreativitasnya, membuat PIN perdamaian sampai mencetak seribu eksemplar majalah hanya dengan modal seribu rupiah.

Beberapa tahun sebelumnya, di masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Fahd telah menulis dan sudah mempunyai rencana tentang tulisannya. “Dengan banyak menulis maka banyak juga mendiskusikan sesuatu,” jelasnya sambil membenarkan posisi duduk. Fahd juga membataskan setiap karyanya. “Saya sengaja membuat tulisan saya dicari, biar keren dan memang bukunya keren,” tuturnya dengan air muka bersahabat.

Menulis kreatif itu tidak boleh menutup diri, harus bisa meluaskan pergaulan. Menurut Fahd, anak jaman sekarang hanya berkutat dengan orang-orang yang ada disekelilingnya saja. Padahal dengan banyak bertemu dan mengenal orang baru, kita menjadi ‘kaya’.  “Generasi sekarang hidupnya disitu-situ aja,” ungkapnya dengan nada sedikit kesal.

Menelisik lebih dalam lagi, Fahd yang mengaku suka menulis dari sekolah dasar ini pernah mentraktir teman-teman sekelasnya dari hasil “Si Jago” yang dimuat dalam Koran di Bandung pada rubrik PR kecil. Dengan semangat, Fahd membacakan puisi yang ia tulis kurang lebih 20 tahun lalu. Baginya, menulis adalah cara membagi gagasan kita kepada orang lain. “Menulis itu untuk berbagi,” katanya cepat.

Tak terasa senja telah berganti pekat, Fahd pun harus bersiap untuk kepergiannya menuntut ilmu di Australia esok. Tidak berhenti berkarya dan selalu punya rencana kedepan adalah prinsip yang terus ia pegang. Menurutnya, tidak ada senioritas dalam dunia menulis. Ucapan yang dititipkan untuk pemula di industri penerbitan pun tidak panjang. “PD dong!”

nb: Profil ini pernah masuk dalam Majalah Orientasi edisi Januari 2012

Minggu, 08 Juli 2012

Review Revolvere Project (Fahd-Fiersa-Futih)




Kilas balik, sebuah cara untuk memperbaiki yang buruk. Yang baik menjadi lebih baik atau bahkan yang terbaik untuk menjadi sangat baik lagi. Bukankah sifat manusia, tidak pernah puas. :)
 
Revolvere Project, project hibrida sastra-musik-visual. Project ini mengajak pembacanya berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, dan telinga sekaligus. Sulit untuk mencari kekurangan dari karya ini.



Yang pertama, Kau Yang Mengutuhkanku. Menikmatinya di sebuah ruangan kecil, meluruskan saraf-saraf otak yang menegang karena seharian terjebak dalam suasana ‘panas’. Namun, tak menghilangkan sensasi rasa yang diciptakan oleh video ini. WOW! Keren, pake banget.

Mengusung tema yang terjadi sehari-hari. Tentunya pembaca lebih bisa mengikuti alur dari video ini. Cinta, rindu, Ketulusan. Ah siapa yang tidak mau menjadi ‘pemeran’ dalam video itu. Memberikan kita keberanian untuk dapat juga menjalani hubungan yang sama, hubungan yang didasari ketulusan tanpa ada embel-embel dibelakangnya. Seperti kutipan yang ada dalam buku Yang Galau Yang Meracau. Kamu cantik, karena aku mencintaimu

Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.

Tampilan visual dan alunan musik yang dibubuhi pada video ini sangat ‘kawin’ dengan rentetan kata yang begitu indah. Membawa pembaca masuk kedalam cerita dan ikut meresapinya.


Yang Kedua, Apologia Sebuah Nama. Berteman tissue yang berserakan di tempat tidur, video ini menghipnotis saya, mengingatkan kembali tentang seseorang yang sering di lupakan. Namun, hidup bukan untuk menyesali yang sudah terjadi kan? Seperti postingan Fahd, Berjalan.

Teruslah berjalan: Sebab satu-satunya cara untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik adalah dengan tidak berhenti mencobanya.

Mungkin bukan hanya saya saja yang terpana oleh karya visual, sastra dan musik yang di kemas secara elok ini. Percakapan yang berada di awal video, sedikitnya memberikan gambaran tentang tema yang diambil. Mengantarkan perasaan pada titik paling bawah untuk kemudian melunturkan semua kesombongan yang semu. Tentunya setiap manusia memiliki ‘detail’ ini; Sombong.

Dialah Ibumu. Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-nama-Nya. Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia. Perempuan yang tak pernah dicemburui Tuhan untuk dicintai manusia jauh mendahuluiNya: Sebab mencintainya, juga berarti mencintai-Nya.

Agak berbeda dengan video Revolvere sebelumnya, durasi dari video kedua ini lebih pendek. Namun tidak mengurangi esensi pesan yang ingin di komunikasikan kepada pembaca. Suara Fiersa yang membantu mengantarkan pada penghayatan lebih dalam pun serasi dengan visual yang disajikan oleh Futih. Keduanya berbicara dengan bahasa yang tidak bisa didefinisikan oleh kata-kata

.

Yang ketiga, Tentang Kita. Kali ini tema yang dibawa sejalan dengan bukunya, A cat In My Eyes. Sedikit terpingkal saat mengetahui pemeran Aku dalam video ini adalah seekor kucing yang persis dengan Kucing yang biasa main di rumah (saya), Marpueh. :D

Marpueh, Ibu dari 3 ekor anak.
Lagi-lagi pesan yang ingin disampaikan oleh Fahd-Fiersa-Futih sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari audience. “ih ceritanya gue banget,” mungkin itu yang akan terlontar saat melihat video mereka (Fahd-Fiersa-Futih).

Namun, dalam video ini saya merasakan adanya penurunan dibanding karya Revolvere Project sebelumnya. Bukan tidak suka, hanya saja feel yang saya dapatkan dari video ketiga ini tidak seperti yang didapatkan dari video sebelumnya. Mungkin kurang gereget kali ya.

Teks dalam video Tentang Kita terlalu cepat, sehingga pembaca kurang meresapi makna dari kalimat yang ada. Hal ini juga didukung oleh backsound dari video yang berrhytme cepat dan mendorong untuk membaca terburu-buru, sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak seutuhnya bisa di serap pembaca. Selain itu, tidak seperti biasanya font yang digunakan sepertinya tidak menggunakan shadow. Meskipun begitu, video ini kaya akan makna. Walaupun ambigu diawal tetapi menyentuh.

Bagian yang paling saya suka dalam video kali ini adalah monolog ditengah video.
Cinta macam apa yang mengekang kebebasan? Cinta macam apa yang memisahkan ‘aku’ dari ‘kamu’? Cinta macam apa yang memposisikan ‘aku’ lebih tinggi dan berkuasa daripada ‘kamu’? Cinta macam apa yang tak sanggup menampung ketulusan dan keluasan makna dari kata ‘kita’

Sekian Kilas balik saya dalam pandangan subyektif tentang Revolvere Project. Seutuhnya saya sangat mengagumi karya-karya yang ada. Menginspirasi saya untuk membuat video serupa untuk salah satu tugas kuliah. Namun, tidak mampu menandingi ketiga video diatas. :)
Semoga suatu hari saya dapat berpartisipasi dalam video Revolvere Project. Terima Kasih.

Kamis, 28 Juni 2012

Pandangan

Sebelumnya, video dan tulisan ini di peruntukan bagi tugas Komunikasi Antar Budaya, Stereotype Indonesia-Jerman.
Terima kasih untuk pihak-pihak yang mendukung. Terutama untuk Konsep Revolvere Project milik Fahd Djibran, Futih dan Fiersa yang menginspirasi sehingga tercipta video ini.






Pandangan


Alunan stagnan air hujan yang berkolaborasi dengan kilat, menemani kesepuluh jemariku menari diatas tuts keyboard komputer. Melintasi cakrawala dan dimensi yang takku tahu pasti.
Hai, Namaku Nomina. Aku lahir dan di besarkan di Indonesia, Negara kepulauan yang penuh dengan Sumber Daya Alam melimpah. Jangan Tanya apakah kami “Kaya”, Cukup kalian berkunjung ke Negara kami kemudian  akan mendapat jawabannya.
Beberapa bulan ini, Aku menjalin komunikasi baik dengan seorang teman baru. Regen namanya, Ia asli Jerman. Awalnya ada ketakutan yang menerjang kepercayaan diri, Aku ingat ketika seorang teman bercerita tentang pandangannya terhadap orang Jerman. Kaku, tidak humoris. Begitu kata katanya yang masih Aku ingat jelas terluncur dengan gayanya yang khas.
“Kemarin aku ketemu sama teman Kakakku, dia asli jerman. Pinter sih, tapi Kaku banget,” celoteh Rainy di depan kelas.
Tentunya itu menjadi bahan perbincangan yang menarik untukku dan beberapa teman sekelasku.
“oh ya? Katanya orang jerman keras kepala ya?” timpal Yagis.
“Iya, Gis. Terus perfeksionis banget, tepat waktu lagi,” Kisa menambahkan.
Karena tidak punya pengalaman apapun dengan Orang Jerman, bahkan mendengar selintingan sifat mereka pun Aku tak. Oleh karena itu, Aku hanya menjadi pendengar yang baik saja.
***
Seiring berjalan waktu, Aku dan Regen semakin dekat. Banyak hal yang aku ceritakan padanya, begitu juga dia. Belakangan ini aku baru tahu, bahwa Orang Jerman pun mempunyai warna-warni pandangan terhadap orang Indonesia. Yang Ia ceritakan padaku, Mereka (orang Jerman) beranggapan bahwa orang Indonesia itu Penakut.
“Kamu tahu Nomina, awalnya aku kira semua orang Indonesia penakut dan pemalas,” tulisnya dalam bahasa Inggris di suatu Jejaring sosial.
“Hahaha, Lalu bagaimana pendapatmu setelah mengenalku?” Jawabku singkat.
“Bukan Cuma itu, kami menganggap  kalian adalah orang yang extrovert dan low profile juga family oriented,” sambungnya.
Percakapan kami terus berkembang, Menambah pengetahuanku tentang banyak hal yang tidak ku ketahui sebelumnya.
Ah, terjawab sudah semua hal yang memenuhi pikiranku sebelumnya. Sudah saatnya lebih empati dan membuka diri untuk mengenal dan berdamai dengan perbedaan.

Fiersa Besari - Melangkkah Tanpamu

Pagi mengetuk mata menamatkan sang mimpi
Dan satu malaikat, dia tertinggal disini
Apa yang telah kuperbuat? Menghancurkan semuanya
Satu khilaf berbisik, dua hati terpecah
Adakah jalan pulang untukku?
Aku yang bodoh melepasmu
Hal terbaik yang pernah ada di hidupku
Kini aku tak tahu
Bagaimana cara melangkah tanpamu
Terhempas tak membekas, bisu dan air mata
"Maaf" tidak berguna, rapuhku tanpa arah
Adakah jalan pulang untukku?
Aku yang bodoh melepasmu
Hal terbaik yang pernah ada di hidupku
Kini aku tak tahu
Bagaimana cara melangkah tanpamu
Retak menyisakan jejak tak terhapus
Dimana kau kini? Sungguh aku rindu

Senin, 18 Juni 2012

Kematian

Hari minggu yang cerah, hari yang biasanya aku manfaatkan untuk berleha-leha di rumah. Tiba-tiba handphoneku bergetar, ada pesan masuk. Seperti biasanya, dengan malas aku membuka pesan tersebut. Namun ini bukan hal yang biasa, karena setelah membacanya aku bergetar antara percaya dan tidak. Pesan tersebut mengabarkan kepergian temanku dari dunia ini. Ia meregang nyawa dalam kecelakaan di daerahnya.
***
Sepertinya, harus selalu siap menunggu dosen yang telat tanpa batas waktu yang pasti. Sembari menunggu, temanku bercerita tentang salah satu mahasiswi di kampusku yang juga mengalami kecelakaan. Bedanya, Ia masih diberikan kekuatan untuk tetap memperjuangkan hidupnya di ruang ICU.
Ah… entah bagaimana caranya, kedua berita itu mampu mengambil bagian di pikiranku. Bukan hanya itu, orang tuaku juga jadi lebih sering menasehatiku untuk tidak menggunakan sepeda motor dengan kecepatan yang berlebih. “gak kok, tata bawa motornya pelan,” selalu itu jawabku.
Mungkin rasa kehilangan yang di takutkan, bukan kematiannya. Setiap orang mungkin sadar bahwa setiap harinya kematian itu dekat, bahkan teramat dekat. Meskipun begitu, masih banyak orang yang berusaha mengalihkannya dan menunda untuk menyiapkan bekal perjalanan itu.
Huh, hari ini membosankan.
***
Terik matahari sepertinya bersaing dengan semangkuk mie ayam yang aku beli sepulang kuliah siang ini. Setelah melahap habis makan siangku itu, aku menyalakan televisi. Sempat mengganti-ganti channel. Hampir semua tayangan membosankan, akhirnya aku berlabuh pada channel yang di belakang namanya ada embel-embel “family”. Mindsetku ini tontonan untuk keluarga, sudah pasti menyenangkan. Ya, aku memang tidak salah karena memang film itu bagus.
Film itu menceritakan sebuah keluarga yang orangtuanya harus berpisah. Singkat cerita, Kematian yang akhirnya menjelaskan kesalah pahaman yang ada diantara keluarga itu. Yang mengharukan adalah ketika kedua anaknya yang masih dalam usia belia harus menerima perpisahan kedua orang tuanya beserta berita penyakit yang diderita ibunya. Kanker.
Dua ribu dua belas. Tentunya kalian tahu, suku maya meyakini bahwa tahun ini adalah akhir jaman. Jangan Tanya aku, aku tidak tahu. Hanya kuasaNya yang dapat diyakini.
***
Kematian. Entah, aku sendiri tidak tahu kapan waktu itu datang padaku. Menghentikan waktuku di dunia. Yang aku tahu, dia (Kematian) akan datang tanpa meminta persetujuanku. Menanyakan kesiapan serta persiapanku.
Malas berangan-angan. Jika dia datang merenggut orang-orang yang aku sayangi. Tegas aku katakan, aku tak pernah siap. Tapi, apa dia mengerti?

Jakarta, 07 Desember 2011/31 Mei 2012

Rabu, 02 Mei 2012

Dimensi


Coba lihat tatanan alam ini, Coba pandanginnya satu persatu dengan seksama. Coba.
Silahkan memaparkan persepsimu, Silahkan jabarkan perspektifmu. Silahkan.
Dimensi mana yang kamu pakai?
Dekat, namun kamu tak bisa ku gapai. Masih bisa dikatakan "dekat"?
Seringkali kesepakatan menyebut kata 'dekat' mendefinisikan keberadaan.
Dekat, dekat dekat. Dimensi mana yang kamu pakai?
Dekatmu semu.
Aku hanya bisa memandangi gedung menjulang tinggi itu sembari memicingkan mata.
Berharap kamu tergambarkan oleh retinaku. Berharap cemas menunggu kamu tampil dihadapanku.
kamu tahu, harap cemas itu membunuh.
Dimensi apa yang aku pakai?
Alam maya dua dimensi rasanya yang menguasaiku.
Alam dimana kesemuan saja yang memenuhi, mengambil alih diri. Semu.
Sekali lagi aku katakan, Kamu semu. Dekat hanya dalam dimensi ruang.