Sabtu, 22 Februari 2014

Kita

Jika kita sebuah rumah, maka akan selalu ada cara untuk menemukan jalan pulang.
Tapi, pernahkah kita berpikir tentang sejauhmana telah tersesat dan berusaha menemukan jalan pulang?
Ada banyak jawaban tentang itu.
Usaha yang kurang maksimal atau kita bukan jalan pulang dan memang tidak pernah ada jalan pulang untuk kita.
Berhenti berpura-pura kalau kita baik-baik saja.

Kebosanan mungkin saja sedang melingkupi kita, atau memang kita yang membosankan?
Cobalah untuk jujur satu sama lain.
Jangan beranggapan takut menyakiti, bukankah ini lebih menyakitkan?

Mengabaikan atau diabaikan?
Kita berada di dunia antara yang penuh dengan situasi atau.
Cukupkan mengira-ngira, pilihannya hanya ada maju atau mundur.

Jika kata nyaman tidak pernah teridentifikasi dari kita, bukankah lebih baik kita berjalan masing-masing?
Apa yang dicari dari ketidaknyamanan?
Nyatanya, akan selalu ada kata kurang dalam makna lain dari melengkapi.
Namun, jika kita terus menerus bersikap kekanak-kanakan. (Si)apa yang akan mendewasakan?

Ketika keadaan yang diharapkan untuk langkah kita ke depan dipaksa stagnan karena keadaan lain, masih bisa kita mengharapkan sesuatu yang tidak terencana?

Pada tahap ini, selalu ada yang tersisih dan menyisihkan.
Tidak perlu memaksakan untuk tetap kita, bebaskan saja kekang yang mungkin secara tidak sadar tercipta.
Kita tidak akan pernah menciptakan pondasi rumah yang kuat, jika bahan-bahan yang di cicil hanya ketidak percayaan, umpatan, ketidak nyamanan, ketidak jujuran dan lainnya yang semakin menyatakan bahwa kita hanya rumah fatamorgana. Sebatas ilusi yang kita ciptakan sendiri.

Pada batas ini, apakah kita jalan pulang?
Kalau tidak, bukankah belum terlambat untuk membangunnya?

Minggu, 29 Desember 2013

Jalan Di Kala Senja

Aku selalu suka saat senja mengintip malu-malu,
lalu pergi dan datang lagi esok hari
Kemudian pada lepas pantai aku bercerita tentang semilir angin yang kadang menyemburuimu

Di pelataran senja, awan menggantung pada sayap matahari
Meninggalkan kenangan yang hilir mudik memaki sejarah
Rebah dibatas pendar yang temaram tak selalu menenangkan,
Maka ku hitungi jejak-jejak misterius yang menuju ke arahmu

Sampailah kita di ujung jalan,
Kamu akan selalu jadi jalan pulang untukku
Kamu akan selalu jadi penuntun jalan untuk hatiku yang tersesat


Senin, 28 Oktober 2013

Melirik Pesona Pantai Sundak

Oleh Sinta Novizah


M
atahari sepertinya berangkat lebih pagi di kota ini. Gerombolan ayam saling bersautan, memecahkan mimpi yang akhirnya mendobrak kelopak mata. Selamat pagi Yogyakarta.

  
 Semilir angin sebagai aksen langit hari ini, sayang jika hanya dilewatkan untuk Bermanja-manjaan dengan tempat tidur. Alasan itu yang membawa langkah kaki makin gesit mengintimkan diri ke desa sidoharjo, Tepus, Gunung Kidul. Sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota Yogya, mata akan di manjakan oleh alunan musik syahdu yang di ciptakan deburan ombak menjahili karang, belum lagi sajian pemandangannya. Semua itu dapat dinikmati secara gratis, cukup hanya dengan membayar parkir kendaraan saja jika membawanya. Tidak melulu karena ombak dan pemandangannya koloni manusia terhipnotis dan berbondong-bondong menengoknya, jejak sejarah tentang pantai sundak pun manis untuk di ketahui.



Berada di koordinat S8°8'47.8" E110°36'27.3", pantai sundak menyimpan cerita dan berevolusi dengan bukti geologi yang bisa di lacak. Sisi barat pantai terdapat masjid dan tanah lapang yang di manfaatkan untuk jejeran mobil, sedangkan sisi sebelah timur kokoh berdiri gua yang terbuat dari karang. Di dalam batu karang setinggi 12 meter itu, tersimpan mata air yang menjadi sumber air tawar warga sekitar.


Menelisik jejak sejarah pantai sundak, biasanya siap berdiri lelaki tua di sekitar tempat parkir. Mbah Tugiman, begitu biasa disapa—salah satu sesepuh di pantai sundak. Sekitar tahun 30-an, sisi barat dan timur pantai masih terendam air. Seiring proses geologi yang mendatangi pantai selatan, permukaan laut menyusut dan air lebih menjorok ke laut.  Hal ini yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk membuka lahan aktivitas ekonominya yang masih berlangsung hingga kini.


Sebelum menyandang nama Sundak, pantai ini bernama pantai Wedibedah yang berarti pasir yang terbelah. Sebab muasal datangnya sapaan itu, karena fenomena alam unik terjadi di pantai ini. Jika musim hujan bersandang, sekelompok air dari daratan numpang lewat menuju lautan. Akibatnya, menyajikan pemandangan seperti sungai yang membelah pasir di dataran sebelah timur pantai. Lain hal jika kemarau datang, air laut berlari menyertakan pasir yang dengan segala kerelaannya terbawa oleh ombak pantai.

Jauh setelah penamaan itu, pada tahun 1976 Wedibedah bertransformasi menjadi Sundak. Penyebabnya adalah perkelahian antara seekor anjing dengan seekor landak laut. Perkelahian itu dimenangkan oleh seekor anjing, dan landak laut pun harus merelakan dirinya menjadi santapan si anjing yang lapar. Perkelahian itu diketahui oleh sebagian warga yang kemudian mengganti wedibedah menjadi sundak—Singkatan dari asu (anjing) dan landak.

Singkat cerita, perkelahian antara anjing dan landak laut itu tidak hanya memberi pengaruh terhadap pergantian nama pantai itu. Tetapi juga memberikan dampak positif untuk penduduk sekitar yang kecewa karena sumur air tawar yang telah di bangunnya tergenang air laut. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air di dalam gua tempat si anjing dan landak berkelahi.



Awan menggelap, pertanda angin malam akan menampakkan perangainya. Suasana malam di pantai sundak juga bisa dinikmati berteman ikan mentah untuk disantap bersama teman. Keluarkan uang beberapa ribu dari dompet, maka kayu bakar pun akan segera melengkapi. Kalau tak selera mengolahnya sendiri, pesan saja yang siap santap. Tidak perlu galau mengenai tempat bermalam, Pengunjung bisa tidur di mana saja. Atau mendirikan tenda menjadi pilihan? Jangan bingung, bangku warung yang kalau malam tak terpakai juga bisa menjadi pilihan akhir. Tak perlu meributkan kegelapan, bukankah membosankan jika hidup terus terang benderang?

Ayo cicipi keindahan pantai sundak, bintang laut dan teman-temannya sudah tak sabar bermain bersama!


referensi: YogYES.COM

Rabu, 04 September 2013

Agustus—Kakak

Agustus.
Bulan yang sesak, menghabiskan liburan hanya dengan aktifitas yang berulang dan membosankan—pastinya bukan pilihan yang baik. Semoga hari kalian tak serupa J

Sebelumnya, gue mau ngasih tau (lagi) nih. Tujuan adanya blog ini, emang buat mendokumentasikan yang gue lewati dan rasakan melalui aksara. Jadi, jangan kaget kalo isinya ya tentang gue (meskipun gak semuanya).

Postingan bulan ini, gue mau memperkenalkan kakak gue satu-satunya. Yap, bunda dari Fahsya. Meskipun pernah sedikit menyinggung tentang kakak. Kayaknya kurang afdhol deh kalo belum detail.
Namanya Santi Lolita, interval umur dia ke gue tujuh tahun satu bulan.
Beda sama gue yang cerewet dan ekstrovert, kakak gue lebih girly dan introvert (walaupun di buku tahunan SMPnya dia di bilang tomboy, karena berambut pendek dan suka naik motor dengan kecepatan lumayan tinggi). Tapi menurut gue, dia itu lebih cewek dari gue. Meskipun kadarnya masih dibawah ade gue.

Seperti yang udah di sebutin sebelumnya, dia sekarang udah berkeluarga dan mempunyai seorang putra yang “super”. Semenjak dia berkeluarga, kedekatan gue sama dia makin baik. Engga tau kenapa, saat saudara lu yang biasanya gak akur dalam hal apapun tiba-tiba ninggalin lu untuk membangun sebuah keluarga baru, itu rasanya kehilangan banget.
Ya, layaknya saudara—pasti pernah dong berantem (sewajarnya). Bahkan hal kecil aja kadang bisa memicu “adu mulut” antar saudara. Dulu (sebelum menikah), gue nganggep kakak gue adalah orang yang tukang merintah, galak dan dingin.

Sejak kecil, gue emang manja. Suatu ketika, kakak gue sama sepupu mama gue sekaligus yang jagain gue (Karna mama gue bekerja) minta izin buat ke cipanas, puncak—rumah langganan mama memasok tanaman hias. Gue ngambek minta ikut, kakak gue bersikeras gak ngizinin. Tapi gue tetep ngambek mau ikut. Waktu itu umur gue sekitar 6 tahun. Hampir dua jam perjalanan, akhirnya kita sampai. Gue senang, karna akhirnya kakak gue ngalah dan mengizinkan gue untuk ikut. Hahahaha

Malam pertama menginap, gue demam. Sampai pagi, demam gue gak turun juga. Akhirnya mama gue jemput ke puncak dan liburan mereka gagal karna gue. Lu bisa nebak dong, gimana ekspresi kakak gue….
Hah, dia ngambek. Bukan cuma sama gue aja, sama Mama gue juga -_-
Sejak itu, kakak gue gak suka kalo gue ngikutin dia. Kejam!

Tapi, persepsi itu berubah saat gue mulai ngerti semuanya. Ngerti gimana rasanya jadi kakak dan ngerti gimana rasanya (akhirnya) harus pisah rumah dari dia.
Dia penyayang, sayang banget malah sama gue. Cuma cara dia aja yang beda. Bukannya emang setiap orang punya cara yang berbeda ya buat nunjukin rasa sayang mereka? Termasuk gue. J

Ah…pokoknya, seberapa pun nyebelinnya kakak gue dulu. Gue sayaaaaaaaaang banget sama dia. Untuk setiap cobaan yang kita hadapin bareng, saling menguatkan dan tetap tegar untuk satu dan lainnya. I love you ka :’)

Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan kebahgiaan dalam setiap jalan yang dilaluinya J

Selasa, 16 Juli 2013

Tentang Beda

Ini tentang beda.
Ini tentang hal yang aku sendiri tak bisa mendefinisikannya.
Ini tentang aku dan kamu.
Ini tentang kita.
***

Di sebuah kota yang penuh polusi, kemacetan yang mencuat dan rutukan setiap orang yang tak habis-habis membayangi setiap langkah—tersimpan sebuah cerita tentang rasa yang terpendam. Tentang kemarahan pada batas, dan harapan yang hampir tidak mungkin.

“Aku manusia, dia juga. Apa yang membuat aku tidak pantas?” teriak seorang gadis dengan paras biasa saja di depan cermin.

Kemarahan itu kini berubah jadi isak tangis tak tertahan. Rintihan tentang dua hal yang tidak dimengerti parameternya, soal “pantas” dan “tidak pantas”.

***

Mungkin hukum alam, setiap yang diinginkan tidak dengan mudah bisa didapatkan. Tapi, jika usaha yang diatas rata-rata telah dilakukan dan hasilnya tetap saja sama, mungkin benar kata pepatah—Bagai pungguk merindukan bulan.

Kegamangan semakin bertambah menyergap seorang gadis yang termenung di atap sebuah gedung. Saat itu rintikan hujan paling mengerti tentang candu yang menerjang, dan angin turut membisikkan petuah penuh arti.

“Biarkan aku melebur bersamamu dan dia akan mengerti,” ungkapnya seraya menuruni anak tangga.

***




Hai, aku mengenalmu baik meskipun kamu tidak mengenalku.

Aku tahu, kamu suka gadis bermata bulat.
Setidaknya, mataku lebih bulat dari matamu.
Aku juga tahu, kamu suka dengan gadis yang berkulit bersih.
Ya, itu bukan aku. Tapi, aku berusaha untuk hidup sehat.
Itu sudah cukup belum untukmu?

Oh ya, satu lagi…
Katanya kamu suka dengan gadis berambut hitam dan panjang.
Untukmu, enam bulan ini aku mulai memanjangkan rambutku.
Meskipun tidak terbiasa dengan rambut panjang, karena panas dan ribet.
Tapi aku berusaha untuk jadi yang kamu mau J

Tiba-tiba isak tangis itu datang lagi.

Hhm…aku sudah berusaha, tapi aku gak bisa.
Rambut ini perlahan menyerah. Sehelai, dua helai dan semuanya.
Seperti yang kamu lihat, aku tidak lagi berambut panjang.

Tarikan nafas yang panjang menjeda.

Mungkin aku juga begitu.
Aku menyerah untuk tetap bertahan buatmu.

Sejak pertama kali aku melihatmu, semangatku untuk sembuh meningkat.
Aku berusaha untuk kuat agar bisa lebih jauh mengenalmu.

Meskipun setiap harinya aku mengunjungi tempatmu bekerja—untuk bertemu dengan butiran yang dapat membuatku lebih lama bertahan, nyatanya kamu sedang melihat video ini.

Aku sudah jadi hal yang lain. Aku dan kamu kini beda.
Terima kasih atas waktunya mendengarkan kejujuran terakhirku.
Akan ku titipkan rasa ini pada sekeping memori yang dapat memutarku diharimu.
Akan ku sampaikan rasa ini pada Tuhanku, mungkin juga Tuhanmu.

***

Senin, 01 Juli 2013

Baduy – Cerita tentang Juni yang Terlambat

Bentara Budaya Jakarta
Juni yang penuh. Akhirnya kita ketemu juga ya di penghujung ini, meskipun agak terlambat :)

Oh ya, bulan ini sebenernya gue mau cerita tentang kegiatan di pertengahan juni kemarin. Jadi, tanggal 15, 16 juni kemarin gue gabung sama Bentara Budaya Jakarta buat hiking ke suku pedalaman Baduy. Wah seru banget.

Kali ini, gue cuma sama widi. Karena satu hal dan lainnya, Upi sama DJ gak bisa ikut. Banyak banget pengalaman yang gue dapet disana.


Sabtu, 15 Juni 2013
Diawali dengan telat bangun, gue memulai perjalanan ke stasiun Tanah Abang di anter Ayah gue dengan terburu-buru. Udah ada Nafis sama Tyo yang jadi Contact Person dari Bentara Budaya nunggu disana. Jam 8 lewat 2 menit gue sampai disana, ternyata rombongan udah pada berangkat dan kita bertiga ketinggalan kereta. Ya… jangan ditanya penyebabnya apa, tentu gara-gara gue. Gak perlu gue beralibi ini itu deh ya buat menjelaskan kesiangan gue. Untungnya Nafis sama Tyo baik banget loh mau nungguin gue yang telat yang berujung naik kereta ekonomi tanpa AC. Beruntungnya lagi sih dapet duduk, kalo engga…… tambah ga enak hati gue sama mereka.

Widi berangkat sendiri dari stasiun pondok ranji dan ketemuan di stasiun rangkas bitung sama rombongan. Tumben banget tuh si widi berani jalan sendiri, hahaha

Cerita punya cerita, ternyata kita satu kereta Cuma beda gerbong aja. Tau gitu gue samperin. Kasian dia, masa dititipin sama anak yang baru lulus SMA sama Mamanya :p
Gue agak lupa sampe stasiun Rangkas bitung jam berapa, kalo gak salah sih jam 10. Rombongan yang terdiri dari 40 orang dengan asal kampus beraneka ragam udah stay nunggu yang telat. Ya…. GUE!


Perjuangan Mendaki bukit per bukit
Setelah gue sampe stasiun rangkas bitung, hal yang pertama gue lakuin adalah mencari widi yang terpisah sendirian. Setelah ketemu, kita menuju mobil angkot yang udah panitia charter. Dua jam perjalanan menuju desa Ciboleger, titik awal pendakian menuju desa Cibeo, Baduy dalam.

Sekitar abis dzuhur, kita mulai naik. Baru sampai gerbang Selamat datang di Baduy aja gue udah bercucuran keringat. Tentu buat sampai ke desa Cibeo butuh perjuangan serta semangat yang ++. Katanya sih lima jam perjalanan menuju ke Cibeo, tapi setelah dijalanin butuh 8 jam perjalanan sampai disana. Hal itu dikarenakan cuaca yang kurang mendukung. Sore, saat kira-kira kita baru menaiki dua bukit dari delapan bukit yang harus di daki, hujan turun. Hal itu menambah sulit medan yang harus di lewati. Selain jalan yang licin penuh dengan tanah merah, tas yang besar dan berat juga jadi penyebab melambatnya perjalanan kita. Belum lagi stock air yang semakin menipis. Itu tuh yang sempat buat gue mikir, “gue bias sampe tujuan gak ya”.
Matahari berpamitan



NAIK!!!!!!


Rintangan semakin jadi setelah matahari pamit dan berganti pekat. Jalanan licin masih setia menemani meskipun hujan sudah bergegas pergi bersama pemandangan indah matahari terbenam di atas bukit.

Wah, ini toh rasanya berada ditengah hutan malam hari dengan jurang di kanan kiri.

Meskipun award jatuh terbanyak bukan dipegang sama gue, tapi gue juga sempat mencicipi rasanya berseluncur ditanah merah. Pakaian,  tas, sepatu gue udah berganti warna semua. Belum lagi rambut, muka dan bau gue yang udah gak bisa didefinisikan. Hahaha, Seru!

Saat perjalanan, kita ketemu sama binatang-binatang khas hutan. Ular, kalajengking, kelabang, lintah, aaahhh udah gak ada waktu untuk manja-manja sok ketakutan. Hanya perlu waspada supaya mereka gak nyerang kita.

Hal yang ditunggu-tunggu datang juga. Jembatan penghubung buat sampai di Cibeo keliatan, bergantian melewati jembatan itu supaya gak jatuh dan akhirnya sampai juga di rumah warga yang bisa kita inapi.

Yang pertama kita lakukan pastinya bersih-bersih. Jangan harap kita bisa bersih-bersih di kamar mandi. Karena disana hanya ada sungai yang bisa dipakai untuk mandi dan kegiatan ke-kamar mandian lainnya. Legowo aja yaaaaa….

Setelah selesai membersihkan semua tanah yang melekat di tubuh. Tanpa sabun tentunya, karena salah satu larangan untuk bermalam di Baduy dalam adalah tidak menggunakan sabun. Selain itu, tidak mengaktifkan semua barang-barang elektronik seperti handphone, kamera dan sebagainya. Jika itu dilanggar, konsekuensinya adalah pengusiran detik itu juga. Gak kebayang kan kalo lu harus pulang tengah malam buta dengan keadaan cape dan bayang-bayang perjalanan yang melelahkan. Gue sih gak mau!

Sebelum istirahat dan makan malam, kita ada acara ngobrol-ngobrol sama guide dan tuan rumah. Seru deh pokoknya, gue jadi lebih tahu tentang suku baduy, khususnya baduy dalam.

Waktunya istirahat………….


Minggu, 16 Juni 2013
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…… semua panik. Alarm siapa itu yang bunyi?

Ternyata teman disamping gue yang alarm hapenya bunyi. Panik, sang pemilik masih kebingungan buat matiin tuh alarm. Karena gue ikutan panik, gue rebut itu hape dan cabut batrenya. Huh, akhirnya.

Sebelumnya, gue udah sempet ke sungai subuh-subuh sama lelly dan mbak ika. Nganterin mereka melakukan panggilan alamiah yang selalu datang di pagi hari. Apalagi malam disana beda sama Jakarta. Dingin banget.
Bersama anak-anak Baduy
Tragedi alarm gak hanya terjadi satu kali, untuk kedua kalinya dengan pelaku yang sama alarm dari hape lainnya bunyiiiii. Kali ini udah menimbulkan krasak krusuk di dapur si mpunya rumah. Untung gak sampe ada pengusiran ya.

Jam 9 lewat dikit kita pamit dan bersiap buat ninggalin desa Cibeo. Sebelumnya udah banyak yang belanja oleh-oleh. Dari gelang, gantungan kunci, sarung tenun sampai madu buat buah tangan sanak saudara. Gue gak beli apa-apa, karena yang ada dipikiran gue adalah beban tas yang berat bertambah berat kalo gue beli lain-lain.

Ternyata, akhirnya gue pake porter buat bawain tas gue. Huh, agak nyesel gak beli oleh-oleh L

Porter hebat

Oh ya, Porter gue itu anak-anak dari suku baduy loh. Mereka hebat banget, satu orang bawa banyak tas yang semuanya berat. Belum lagi medan yang terjal dan menanjak, Salute banget deh gue sama mereka.

Kita lewat jalan yang berbeda dengan jalan keberangkatan. Lebih cepat, Cuma lebih curam dan melelahkan. Kata guidenya sih jalan itu lebih sulit kalo kita laluin pas berangkat, makanya gak lewat situ.

Jalan yang paling tak terlupakan adalah jalan memanjat yang gak ada ujungnya. Bayangin aja, satu tanjakan dengan tiga kali istirahat. Yang jadi pengalaman lainnya, gue sempet ngerasain minum dari mata air langsung karena minum yang gue bawa habis. Seger kok airnya.

Gue sama widi sempet kesasar berdua doing di tengah hutan. Untungnya itu siang hari dan matahari lagi ceria-cerianya. Meskipun jalan yang kita laluin bener, tetep aja deg deg ser Cuma berdua di tengah hutan. Sempat nanya sama penduduk situ, Cuma agak bingung karena masih banyak penduduk asli situ yang gak bisa bahasa Indonesia. Mereka hanya bisa berbahasa sunda.

Sesampainya di desa Ciboleger, titik awal dan akhir dari perjalanan ini. Sepatu gue udah ngambek. Basah, kotor dan gak jelas bentuknya. Gue memutuskan untuk membeli sandal jepit dengan harga sepuluh ribu rupiah. Yaaaa, yang penting gue gak nyeker pulang ke rumah. Hahaha

Gue udah di sambut sama para porter yang udah sampe lebih dulu di bawah. Ngasih upah yang gak seberapa buat jasa mereka bawain tas gue yang cukup berat, gue nyari toilet umum buat pipis yang udah gue tahan-tahan beberapa jam lalu. Setelah itu, makan. Eh ternyata rombongan ngejar kereta, jadi setelah kloter terakhir sampe langsung berangkat. Mie gue belom mateng, akhirnya memutuskan untuk di bungkus. Gue makan di angkot, widi memiliih untuk dibawa pulang ke rumah. Gak kebayang itu bentuk mienya. Hahaha

Perjalanan dari desa Ciboleger ke stasiun Rangkas bitung terasa lebih lama di banding perjalanan sebaliknya. Gue pusing dan mabok perjalanan (lagi-lagi).

Gue gak ngerti pas pulang itu gue naik kereta apa, yang gue ngerti adalah buat naik ke gerbong kereta gue harus dibantu penumpang lain. Ih terima kasih loh mas-mas yang gue gak inget muka apalagi tahu namanya.

Hhhmmm… Bagian ini gue harus cerita gak ya?
Sekilas aja ya. Temen gue yang inisialnya widi, jatuh cinta di kereta. Ceritanya bisa dibaca sendiri disini ya.

Widi, niat turun di stasiun pondok ranji karena mamanya udah jemput disana. Tapi, ternyata keretanya gak berhenti di stasiun itu. Alhasil, gue nemenin widi turun di stasiun Kebayoran Lama. Dari situ gue naik angkot sekali dan minta jemput sama Mama gue di depan gang rumah gue.


Perjalanan yang bener-bener FUN dan penuh pelajaran deh pokoknya. Makasih buat teman-teman Bentara Budaya Jakarta :)
sempetin narsis dengan bentuk tak beraturan
Istirahat menikmati matahari terbenam di atas Bukit

Jumat, 24 Mei 2013

Teruntuk (calon) Anakku



Apa kabarmu sayang hari ini?
Ibu harap kamu selalu baik, sehat dan menjadi apa yang kamu mau.
Ini Ibu buat sebelum kamu lahir, bahkan (mungkin) saat Ibu dan Ayahmu masih dalam pemantasan diri. Kami masih saling mencari dan menemukan J

Sayang, jika nanti Ibu terlalu larut dalam pekerjaan yang Ibu geluti, Jangan takut kamu tak di cintai. Karena setiap hembus nafas Ibu, ada cinta untukmu.

Jangan juga takut tak terpantau. Karena setiap akhir bulan, kita akan berdestinasi bersama. Kamu, Ibu, Ayah, Adikmu atau Kakakmu.

Ibu akan mengajakmu mengajakmu berkenalan dengan Indonesia. Negeri indah dimana setiap jejak, Tuhan ciptakan dengan kasih sayang yang tak terkira.

Keindahan lautnya,
Kekayaan budayanya,
Keramahan masyarakatnya.
Gunung-gunung serta pemandangan yang terpapar dan wajib kamu ketahui. Kamu harus mencintainya, sayang.

Sayang, nanti Ibu akan mengajarimu membaca. Agar kamu bisa membaca apa yang Ibu tulis hari ini. Agar kamu bisa mengingatkan Ibu akan janji ini. Mungkin saja Ibu luput.

Anakku yang selalu membanggakan, nanti sampaikan pada nenek dan kakekmu ya, kalau Ibu sangat berterima kasih pada mereka. Karena memberikan Ibu kesempatan untuk membangun mimpi-mimpi dan merintis untuk mewujudkannya.

Buat Buah hatiku, peluk aku sesaat setelah kamu membaca ini.
Love you :* ({})