Rabu, 14 Januari 2015

Annyeong Song Triplets (Daehan, Minguk, Manse)

SELAMAT TAHUN 2015!!!!!!

Tahun ini akan dibuka dengan postingan tentang kegilaan gue belakangan ini. Mengisi "liburan" yang terpaksa belum diakhiri, gue ngisi waktu dengan banyak nonton. Ya... gak jauh-jauh dari anime, film jepang, drama korea dan variety show korea. Kenapa gak jauh-jauh dari itu? Karena pensupply gue penggemar konten itu. Oke fix, kita akhiri curhatan gue selama liburan.

Kali ini, gue mau mengulas tentang salah satu favorit gue di variety show korea. KIM JONG KOOK? Na na... kali ini bukan ajusshi menggemaskan itu. Tapi cowok menggemaskan lainnya yang udah merebut separuh hati gue. ahahaha, bahkan ini bukan satu cowok... melainkan tiga cowok! (rakus banget yak. hehehe)

Berawal dari berlangganan tv berbayar, gue sering stay tune disalah satu stasiun televisi korea. Nah, dari situlah gue dipertemukan dengan salah satu variety show yang menampilkan kebersamaan sang Ayah dan anak tanpa ibu mereka selama dua hari. waktu berlalu, banyak member dari acara itu yang berganti. Sampai datanglah tiga pujaan hati gue yang langsung memikat dan gak membiarkan gue untuk berpindah hati, hahahaha. (yang ini lebay)

Well, gue perkenalkan mereka (walau sebagian pasti udah pada tau). Mereka adalah SONG TRIPLETS. Song Triplets terdiri dari Song Daehan, Song Minguk dan Song Manse, mereka anak dari aktor Song Il Kook dan Hakim Pengadilan Tinggi, Jeong Seung Yeon. Mereka lahir pada 16 Maret 2012. Kalau umur Korea, mereka maret nanti 4 tahun.

(Kiri ke Kanan) Manse, Minguk, Daehan
Meskipun mereka kembar tiga, tapi sifat mereka tidak selalu sama. Dengan senang hati, Ayo kita ulas...... 
Daehan sebagai anak yang lahir pertama, punya sifat layaknya seorang kakak. Cool, perhatian dan pada beberapa episodenya menunjukkan ketertarikan pada kamera dan ikan. Daehan cenderung lebih pendiam dari kedua saudaranya, dan clueless dalam soal mengingat sesuatu. Contohnya saat episode mereka ke dokter, daehan gak inget itu tempat apa sedangkan kedua saudaranya udah nangis bersahut-sahutan, hehehe. tapi pada episode ke dokter berikutnya, daehan menunjukkan sikap kalo dia emang benar-benar sulung dari tiga bersaudara itu. Dia memberanikan diri untuk di suntik tanpa ditemani Ayahnya, oh iya, Daehan juga selalu jadi penjaga tas Ayahnya. Uhhh... Pinter banget :D

SONG DAEHAN

Minguk, lahir sebagai anak kedua yang memiliki sifat periang. Disetiap episodenya, minguk selalu menebar aegyo yang bikin pemirsanya geregetan. Mingguk juga hobi nyanyi dan sangat cepat mengingat sesuatu. Seperti yang diceritakan sebelumnya, Minguklah yang pertama kali mengenali tempat praktek dokter dan gak berhentinya menangis. Dia juga banyak hafal lagu anak-anak dan bernyanyi dengan suka hati dimanapun berada. Selain itu, Minguk juga suka banget makan. Semuanya masuk dalam sekali suap. Oh iya, minguk juga sering bangun lebih awal dari saudara-saudaranya, termasuk Ayahnya sendiri. Dengan pinternya, dia bermain sendiri sampai semuanya bangun. Ah... geregetan deh, Minguk paling sering terlihat bercanda dengan adik kembarnya dan memperlakukan kakak kembarnya dengan hormat dan sayang. cute :3

SONG MINGUK


Manse. Bungsu ini dikenal sebagai free-spirit. Dia juga Car Fetish, hal itu terbukti kalo manse ketemu sama hal-hal yang berbau mobil atau yang mereka sebut beppp beppp... Pernah beberapa kali, manse mengambil alih tempat Ayahnya untuk memegang kendali mobil. Untungnya mobil sudah dalam keadaan berhenti dan mati. Manse juga pemberani, saat bermain di lumpur, hanya manse yang berani untuk kotor-kotoran dan berburu kepiting. Selain itu, saat mengunjungi Sarang (salah satu member juga) di Jepang, Manse yang pertama kali berani mendekat dengan kyoro-- anjing peliharaan Sarang, meskipun akhirnya ketakutan seperti yang lain. hihihi.... Beberapa kali, manse juga menunjukkan sikapnya sebagai si bungsu, Manse sering sekali meng-copy apa yang dilakukan oleh kedua kakaknya, selain itu Manse juga kerap kali mendapat perlindungan dari ke dua saudara kembarnya.

SONG MANSE

Selain dari tingkah ketiganya yang menggemaskan, gue juga salute sama cara asuh dari Song Il Kook dan istri, mereka mendidik ketiganya untuk disiplin dan saling menyayangi serta membantu satu sama lain. Kayak mereka gak memberikan ketiganya mainan banyak, selain itu hanya memberikan mainan yang menggunakan tubuh mereka. Cara mendisiplinkan mereka ketika berantem atau sedikit membangkang juga keren. Yaitu memisahkannya ke tempat berbeda dan menasehati serta beberapa kali diberi peringatan. Efeknya pun bisa dilihat dari setiap episode, ketiganya tumbuh saling melengkapi, membantu dan menyayangi.

Daehan, Minguk, Manse berpegangan tangan tanpa sepengetahuan Ayahnya yang sedang memotret

Eh iya, hampir lupa. Song Triplets juga punya lagu theme song. Judulnya Triplets Song (sessangdungi song) atau Haengbok Hagil Barae yang dinyanyiin sama Sin Jae Yeon dan Kim Tae Hee. Lucu dan enak lagunya, Liriknya simpel dan Song Triplets banget.



Masih banyak banget yang mau gue ceritain tentang mereka dan member lainnya diacara itu yang gak kalah menggemaskan, tapi kayaknya bisa dicari tau sendiri di program mereka deh. hehehe, semoga mereka tetap tumbuh mengagumkan ya... dan gue punya satu kayak mereka. ahahahaha. Sampai ketemu dilain postingan yaaaa...

gambar song triplets yang gue buat... (masih belajar jadi harap maklum)

NB:
Gambar diambil dari sini dan masih hak pemilik.
Song Triplets tampil dalam acara "The Return of Superman" yang di tayangkan pada stasiun tv KBS2 dan bisa di lihat di Youtube.

Rabu, 21 Mei 2014

Haloooo~

Halooo~
Apa kabar?
Akhir-akhir ini merupakan waktu yang cukup berat untuk dilalui ya?
Semoga proses ini membuat semuanya lebih baik lagi. SELAMAT NAIK KELAS di sekolah kehidupan :)

Selasa, 08 April 2014

Game Board "Petualangan Menuju Sekolah"

Ternyata, saya sudah sampai pada kewajiban terakhir sebagai seorang Mahasiswa di tahun ini. Berikut perancangan skripsi aplikatif saya yang mengangkat tema kebersihan diri pada anak usia dini melalui permainan edukasi game board "Petualangan Menuju Sekolah".

sila diberikan masukan melalui laman ini, twitter @gbpetualangan atau video youtube di Game Board "Petualangan Menuju Sekolah".

Simulasi permainan ini dilakukan di TKIT As-Syukur, Jakarta Selatan.

Sabtu, 22 Februari 2014

Kita

Jika kita sebuah rumah, maka akan selalu ada cara untuk menemukan jalan pulang.
Tapi, pernahkah kita berpikir tentang sejauhmana telah tersesat dan berusaha menemukan jalan pulang?
Ada banyak jawaban tentang itu.
Usaha yang kurang maksimal atau kita bukan jalan pulang dan memang tidak pernah ada jalan pulang untuk kita.
Berhenti berpura-pura kalau kita baik-baik saja.

Kebosanan mungkin saja sedang melingkupi kita, atau memang kita yang membosankan?
Cobalah untuk jujur satu sama lain.
Jangan beranggapan takut menyakiti, bukankah ini lebih menyakitkan?

Mengabaikan atau diabaikan?
Kita berada di dunia antara yang penuh dengan situasi atau.
Cukupkan mengira-ngira, pilihannya hanya ada maju atau mundur.

Jika kata nyaman tidak pernah teridentifikasi dari kita, bukankah lebih baik kita berjalan masing-masing?
Apa yang dicari dari ketidaknyamanan?
Nyatanya, akan selalu ada kata kurang dalam makna lain dari melengkapi.
Namun, jika kita terus menerus bersikap kekanak-kanakan. (Si)apa yang akan mendewasakan?

Ketika keadaan yang diharapkan untuk langkah kita ke depan dipaksa stagnan karena keadaan lain, masih bisa kita mengharapkan sesuatu yang tidak terencana?

Pada tahap ini, selalu ada yang tersisih dan menyisihkan.
Tidak perlu memaksakan untuk tetap kita, bebaskan saja kekang yang mungkin secara tidak sadar tercipta.
Kita tidak akan pernah menciptakan pondasi rumah yang kuat, jika bahan-bahan yang di cicil hanya ketidak percayaan, umpatan, ketidak nyamanan, ketidak jujuran dan lainnya yang semakin menyatakan bahwa kita hanya rumah fatamorgana. Sebatas ilusi yang kita ciptakan sendiri.

Pada batas ini, apakah kita jalan pulang?
Kalau tidak, bukankah belum terlambat untuk membangunnya?

Minggu, 29 Desember 2013

Jalan Di Kala Senja

Aku selalu suka saat senja mengintip malu-malu,
lalu pergi dan datang lagi esok hari
Kemudian pada lepas pantai aku bercerita tentang semilir angin yang kadang menyemburuimu

Di pelataran senja, awan menggantung pada sayap matahari
Meninggalkan kenangan yang hilir mudik memaki sejarah
Rebah dibatas pendar yang temaram tak selalu menenangkan,
Maka ku hitungi jejak-jejak misterius yang menuju ke arahmu

Sampailah kita di ujung jalan,
Kamu akan selalu jadi jalan pulang untukku
Kamu akan selalu jadi penuntun jalan untuk hatiku yang tersesat


Senin, 28 Oktober 2013

Melirik Pesona Pantai Sundak

Oleh Sinta Novizah


M
atahari sepertinya berangkat lebih pagi di kota ini. Gerombolan ayam saling bersautan, memecahkan mimpi yang akhirnya mendobrak kelopak mata. Selamat pagi Yogyakarta.

  
 Semilir angin sebagai aksen langit hari ini, sayang jika hanya dilewatkan untuk Bermanja-manjaan dengan tempat tidur. Alasan itu yang membawa langkah kaki makin gesit mengintimkan diri ke desa sidoharjo, Tepus, Gunung Kidul. Sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota Yogya, mata akan di manjakan oleh alunan musik syahdu yang di ciptakan deburan ombak menjahili karang, belum lagi sajian pemandangannya. Semua itu dapat dinikmati secara gratis, cukup hanya dengan membayar parkir kendaraan saja jika membawanya. Tidak melulu karena ombak dan pemandangannya koloni manusia terhipnotis dan berbondong-bondong menengoknya, jejak sejarah tentang pantai sundak pun manis untuk di ketahui.



Berada di koordinat S8°8'47.8" E110°36'27.3", pantai sundak menyimpan cerita dan berevolusi dengan bukti geologi yang bisa di lacak. Sisi barat pantai terdapat masjid dan tanah lapang yang di manfaatkan untuk jejeran mobil, sedangkan sisi sebelah timur kokoh berdiri gua yang terbuat dari karang. Di dalam batu karang setinggi 12 meter itu, tersimpan mata air yang menjadi sumber air tawar warga sekitar.


Menelisik jejak sejarah pantai sundak, biasanya siap berdiri lelaki tua di sekitar tempat parkir. Mbah Tugiman, begitu biasa disapa—salah satu sesepuh di pantai sundak. Sekitar tahun 30-an, sisi barat dan timur pantai masih terendam air. Seiring proses geologi yang mendatangi pantai selatan, permukaan laut menyusut dan air lebih menjorok ke laut.  Hal ini yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk membuka lahan aktivitas ekonominya yang masih berlangsung hingga kini.


Sebelum menyandang nama Sundak, pantai ini bernama pantai Wedibedah yang berarti pasir yang terbelah. Sebab muasal datangnya sapaan itu, karena fenomena alam unik terjadi di pantai ini. Jika musim hujan bersandang, sekelompok air dari daratan numpang lewat menuju lautan. Akibatnya, menyajikan pemandangan seperti sungai yang membelah pasir di dataran sebelah timur pantai. Lain hal jika kemarau datang, air laut berlari menyertakan pasir yang dengan segala kerelaannya terbawa oleh ombak pantai.

Jauh setelah penamaan itu, pada tahun 1976 Wedibedah bertransformasi menjadi Sundak. Penyebabnya adalah perkelahian antara seekor anjing dengan seekor landak laut. Perkelahian itu dimenangkan oleh seekor anjing, dan landak laut pun harus merelakan dirinya menjadi santapan si anjing yang lapar. Perkelahian itu diketahui oleh sebagian warga yang kemudian mengganti wedibedah menjadi sundak—Singkatan dari asu (anjing) dan landak.

Singkat cerita, perkelahian antara anjing dan landak laut itu tidak hanya memberi pengaruh terhadap pergantian nama pantai itu. Tetapi juga memberikan dampak positif untuk penduduk sekitar yang kecewa karena sumur air tawar yang telah di bangunnya tergenang air laut. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air di dalam gua tempat si anjing dan landak berkelahi.



Awan menggelap, pertanda angin malam akan menampakkan perangainya. Suasana malam di pantai sundak juga bisa dinikmati berteman ikan mentah untuk disantap bersama teman. Keluarkan uang beberapa ribu dari dompet, maka kayu bakar pun akan segera melengkapi. Kalau tak selera mengolahnya sendiri, pesan saja yang siap santap. Tidak perlu galau mengenai tempat bermalam, Pengunjung bisa tidur di mana saja. Atau mendirikan tenda menjadi pilihan? Jangan bingung, bangku warung yang kalau malam tak terpakai juga bisa menjadi pilihan akhir. Tak perlu meributkan kegelapan, bukankah membosankan jika hidup terus terang benderang?

Ayo cicipi keindahan pantai sundak, bintang laut dan teman-temannya sudah tak sabar bermain bersama!


referensi: YogYES.COM

Rabu, 04 September 2013

Agustus—Kakak

Agustus.
Bulan yang sesak, menghabiskan liburan hanya dengan aktifitas yang berulang dan membosankan—pastinya bukan pilihan yang baik. Semoga hari kalian tak serupa J

Sebelumnya, gue mau ngasih tau (lagi) nih. Tujuan adanya blog ini, emang buat mendokumentasikan yang gue lewati dan rasakan melalui aksara. Jadi, jangan kaget kalo isinya ya tentang gue (meskipun gak semuanya).

Postingan bulan ini, gue mau memperkenalkan kakak gue satu-satunya. Yap, bunda dari Fahsya. Meskipun pernah sedikit menyinggung tentang kakak. Kayaknya kurang afdhol deh kalo belum detail.
Namanya Santi Lolita, interval umur dia ke gue tujuh tahun satu bulan.
Beda sama gue yang cerewet dan ekstrovert, kakak gue lebih girly dan introvert (walaupun di buku tahunan SMPnya dia di bilang tomboy, karena berambut pendek dan suka naik motor dengan kecepatan lumayan tinggi). Tapi menurut gue, dia itu lebih cewek dari gue. Meskipun kadarnya masih dibawah ade gue.

Seperti yang udah di sebutin sebelumnya, dia sekarang udah berkeluarga dan mempunyai seorang putra yang “super”. Semenjak dia berkeluarga, kedekatan gue sama dia makin baik. Engga tau kenapa, saat saudara lu yang biasanya gak akur dalam hal apapun tiba-tiba ninggalin lu untuk membangun sebuah keluarga baru, itu rasanya kehilangan banget.
Ya, layaknya saudara—pasti pernah dong berantem (sewajarnya). Bahkan hal kecil aja kadang bisa memicu “adu mulut” antar saudara. Dulu (sebelum menikah), gue nganggep kakak gue adalah orang yang tukang merintah, galak dan dingin.

Sejak kecil, gue emang manja. Suatu ketika, kakak gue sama sepupu mama gue sekaligus yang jagain gue (Karna mama gue bekerja) minta izin buat ke cipanas, puncak—rumah langganan mama memasok tanaman hias. Gue ngambek minta ikut, kakak gue bersikeras gak ngizinin. Tapi gue tetep ngambek mau ikut. Waktu itu umur gue sekitar 6 tahun. Hampir dua jam perjalanan, akhirnya kita sampai. Gue senang, karna akhirnya kakak gue ngalah dan mengizinkan gue untuk ikut. Hahahaha

Malam pertama menginap, gue demam. Sampai pagi, demam gue gak turun juga. Akhirnya mama gue jemput ke puncak dan liburan mereka gagal karna gue. Lu bisa nebak dong, gimana ekspresi kakak gue….
Hah, dia ngambek. Bukan cuma sama gue aja, sama Mama gue juga -_-
Sejak itu, kakak gue gak suka kalo gue ngikutin dia. Kejam!

Tapi, persepsi itu berubah saat gue mulai ngerti semuanya. Ngerti gimana rasanya jadi kakak dan ngerti gimana rasanya (akhirnya) harus pisah rumah dari dia.
Dia penyayang, sayang banget malah sama gue. Cuma cara dia aja yang beda. Bukannya emang setiap orang punya cara yang berbeda ya buat nunjukin rasa sayang mereka? Termasuk gue. J

Ah…pokoknya, seberapa pun nyebelinnya kakak gue dulu. Gue sayaaaaaaaaang banget sama dia. Untuk setiap cobaan yang kita hadapin bareng, saling menguatkan dan tetap tegar untuk satu dan lainnya. I love you ka :’)

Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan kebahgiaan dalam setiap jalan yang dilaluinya J