Sabtu, 22 Februari 2014

Kita

Jika kita sebuah rumah, maka akan selalu ada cara untuk menemukan jalan pulang.
Tapi, pernahkah kita berpikir tentang sejauhmana telah tersesat dan berusaha menemukan jalan pulang?
Ada banyak jawaban tentang itu.
Usaha yang kurang maksimal atau kita bukan jalan pulang dan memang tidak pernah ada jalan pulang untuk kita.
Berhenti berpura-pura kalau kita baik-baik saja.

Kebosanan mungkin saja sedang melingkupi kita, atau memang kita yang membosankan?
Cobalah untuk jujur satu sama lain.
Jangan beranggapan takut menyakiti, bukankah ini lebih menyakitkan?

Mengabaikan atau diabaikan?
Kita berada di dunia antara yang penuh dengan situasi atau.
Cukupkan mengira-ngira, pilihannya hanya ada maju atau mundur.

Jika kata nyaman tidak pernah teridentifikasi dari kita, bukankah lebih baik kita berjalan masing-masing?
Apa yang dicari dari ketidaknyamanan?
Nyatanya, akan selalu ada kata kurang dalam makna lain dari melengkapi.
Namun, jika kita terus menerus bersikap kekanak-kanakan. (Si)apa yang akan mendewasakan?

Ketika keadaan yang diharapkan untuk langkah kita ke depan dipaksa stagnan karena keadaan lain, masih bisa kita mengharapkan sesuatu yang tidak terencana?

Pada tahap ini, selalu ada yang tersisih dan menyisihkan.
Tidak perlu memaksakan untuk tetap kita, bebaskan saja kekang yang mungkin secara tidak sadar tercipta.
Kita tidak akan pernah menciptakan pondasi rumah yang kuat, jika bahan-bahan yang di cicil hanya ketidak percayaan, umpatan, ketidak nyamanan, ketidak jujuran dan lainnya yang semakin menyatakan bahwa kita hanya rumah fatamorgana. Sebatas ilusi yang kita ciptakan sendiri.

Pada batas ini, apakah kita jalan pulang?
Kalau tidak, bukankah belum terlambat untuk membangunnya?