Selasa, 15 November 2011

LimaBelas November

Enggan aku bilang umurku bertambah. 
Aku pikir hari ini dan setiap harinya umurku mengurang dan terus berkurang. Aku belum mapan untuk dibilang dewasa. Sikapku, caraku menyelesaikan masalah yang tak henti menggilirku, menguji kesabaranku. Aku mau menangis, boleh?

Biar saja aku disini sendiri, mencurahkan semuanya langsung padaMu. Tidak, tidak aku sangsikan keberadaan mereka. Semuanya tetap berarti pada porsinya, bahkan orang orang yang sulit ku gapai.
Aku terhenti di batas senja, berusaha memaksa ingatanku mengulang yang telah terjadi. Apa yang masih jadi pekerjaan rumahku, apa yang masih harus aku benahi dan apa apa lainnya.
Aku tercengang, bolehlah aku pinta waktu lenggang untuk menyelesaikan ini Tuhan?

Setiap kebahagian selalu berselimut tangisan. Tapi hari ini, kali ini, tangisan itu bukan menyelimuti bahagia. Dia berdiri sendiri dalam rasa yang berbeda. Terima kasih untuk semuanya yang memberi pernak pernik dihariku.

Jumat, 11 November 2011

Special For my sweet assisten

hari ini tanggal bagus. banyak sekali orang yang berharap dunia akan seindah tanggal ini. 11.11.11. hari ini juga spesial buat lu. gue juga yakin suatu saat lu bakal liat thread ini. cuma mau ngejelasin, sengaja gak ngucapin tepat pkl 00.00 karna emg mau ngasih surprise siang nanti :D SELAMAT ULANG TAHUN LUTHFIA RACHMI cuma gengsi buat blg takut kalo lu resign :p semoga harapan yg udah lu susun terwujud. amin berkurang ya camennya \(‘o’ )/

Kamis, 03 November 2011

Terlambat Menyadari


Hari itu aneh, belum habis kekesalanku karena “Meo” sahabatku yang setia menemaniku kuliah masuk “rumah sakit”, aku malah bertemu dengan pria aneh saat aku memarkir “beatom” di pelataran rumah. Pria itu berperawakan pendek, berkulit sawo matang dan memakai pakaian yang membuat dahi mengernyit serta mata memicing. Pakaiannya begitu ‘ramai’ dengan butiran-butiran hiasan bertuliskan AR. Entah apa artinya, mungkin singkatan namanya atau mungkin kekasihnya. Namun belakangan aku tahu, AR itu bukan singkatan dari namanya. Ya sudahlah, mungkin itu nama singkatan kekasihnya. Aku tidak mau ambil pusing tentang itu. Apalagi aku sendiri sedang dikuasai oleh kemarahan yang bodoh.

Kemarahanku semakin menjadi-jadi, pria itu terus saja mengikutiku. Semakin aku menghindar maka semakin gencar juga ia membuka pembicaraan denganku. Huh, aku menyerah untuk menghindarinya. Dia semakin nekat saja. Dengan setengah hati, akhirnya aku meladeninya ngobrol. Namun, arah obrolannya semakin tidak aku pahami. Dia menceritakan sesuatu yang tak lazim dan sulit aku percayai.

Di suatu ketika, saat belum lama aku meresponnya, ia bercerita tentang pekerjaannya. Pekerjaan yang benar-benar tidak pernah aku tahu apalagi temui. Hanya darinyalah aku tahu bahwa ada pekerjaan semacam itu. Aneh. Aku kira, dia hanya seorang pemalas yang kerap aku temui saat makan dipinggir jalan. Mereka bercerita dan berharap dikasihani, setelah itu akan diberi uang. Tapi dia berbeda.

Semakin lama, keanehan itu mencair, aku semakin tertarik dengan ceritakannya. Ia bercerita tentang aku, masa aku masih jadi segumpal darah dalam ruang hangat penuh cinta. Aku tidak ingat itu, tapi dia? Dari mana dia tahu semua itu? Siapa dia? Dia saudaraku? Ah, aku semakin bingung dibuatnya.

Dia mulai bercerita lagi tentang profesinya, tentang peraturan-peraturan yang tertata rapi dalam kata-kata. Entah peraturan itu sama seperti peraturan-peraturan di negeriku yang tinggal raga tanpa nyawa pengamalannya, atau bahkan peraturan yang representative untuk dicontoh. Aku selalu bingung kalau mengingatnya, bayangkan saja, dia bilang di tempat asalnya telah dikeluarkan Surat Keputusan No. 89.799-XXII tahun 2,3 M tentang pembentukan Satuan Tugas Pengembalian Kepercayaan Dan Sakralitas Alam Rahim. Peraturan macam apa itu? Kemarahanku yang tadi memuncak berubah menjadi kebingungan yang ujungnya nanti jadi kegalauan. Biasa anak muda, apapun yang dialami pada akhirnya menjadi kegalauan.

Lebih jauh, dia menceritakan tentang urutan perkembanganku selama dalam kantung rahim Mama, bagaimana perjuangannya hingga aku bisa melihat dunia dan mengawalinya dengan tangisan. Dia tahu, aku bingung.

Mungkin dia sadar akan kebingunganku, tiba-tiba dia berkata. “Kamu memang gak bakal ingat, karena kamu lewat terowongan Vaghana pas lahir,” katanya.
“Terowongan Vaghana?” tanyaku spontan.
“Iya, terowongan dengan cairan kental yang membuat semua ingatanmu tentang alam rahim terhapus,” jawabnya dengan senyum.

Dia juga mengingatkanku tentang pria tua yang membawa buku besar, yang bertanya padaku saat masa peralihanku dari alam ruh ke alam rahim. Kira-kira usiaku empat bulan dalam kandungan waktu itu. Aku benar- benar lupa, tapi dia berusaha mengingatkanku. Katanya lelaki tua itu banyak bertanya padaku, bertanya tentang kesiapan dan janjiku yang harus patuh pada Raja Semesta dan peraturan yang telah dikukuhkan di Kerajaan Semesta. Sekuat apapun dia mengingatkanku, aku tetap tidak ingat. Namun, ada sesuatu dalam diriku yang mengamini penjelasan itu. Hal tersebut yang membuatku tetap bertahan diposisiku dan masih setia mendengar cerita pria itu.

Ceritanya terjeda, aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum dan beberapa makanan untuk pria aneh tersebut. Seperti sudah tahu aku akan mengambilkannya minum, dia memesan kepadaku untuk menyuguhkan minuman berwarna yang dingin. “Hari ini terik sekali,” ujarnya memberi penjelasan tentang minuman yang dipilihnya.

Kembali dari warung, karena tidak ada minuman berwarna di rumahku, pria itu melanjutkan ceritanya. Panjang lebar dia bercerita tentangku, ya… tentangku. Aku masih heran, bagaimana dia bisa lebih tahu tentangku dibanding aku sendiri. Apa ini yang dinamakan krisis jati diri? Aku kurang mengerti masalah apa tadi itu yang aku bilang? Oh.. iya krisis jati diri. Aku kurang mengerti, nanti deh aku tanya-tanya sama temanku yang lebih mengerti itu.

Yang paling unik dari ceritanya adalah ketika dia bercerita bahwa aku pernah bertemu dengan Kucing Yang Bisa Berbicara, Ikan Mas Yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, Aynu Si Gadis Buta Penunjuk Jalan, Professor Waktu, Mahavatara dan terakhir Nenek Olav. Semuanya begitu unik, apalagi pesan yang mereka sampaikan secara tersirat maupun tersurat.

Seperti Kucing yang bisa berbicara itu, dia mengajariku tentang tujuan hidup. Menyarankan padaku untuk selalu mempunyai rencana yang matang sebelum melakukan perjalanan, mengambil keputusan yang tepat. Atau ikan mas yang bekerja sebagai koki dengan menu andalannya paralea, dia meyakinkanku untuk selalu peka akan rasa. Karena menurutnya, dalam ukuran tertentu rasa yang enak dan awalnya jadi favorit bisa berubah menjadi rasa yang tidak enak.

Ada lagi, Amadeus sang komposer handal yang menghimbauku untuk selalu mendengarkan, menangkap makna dibalik suara-suara yang terdengar. Hhmm.. yang jadi favoritku memang si gadis buta penunjuk jalan itu, Aynu. Meskipun buta dia mampu menunjukkan jalan keluar dari labirin. Hebat bukan? Tapi yang lebih hebat lagi dia mengisyaratkan padaku untuk mematikan mata dan menyalakan hati.

Masih ada professor waktu yang memarahiku karena boros waktu, ya.. aku memang harus lebih hemat waktu. Kemudian Mahavatara, seorang yang tampan dan berwibawa yang mengajarkanku tentang budi pekerti. Yang terakhir Nenek Olav, dia mengoleksi Koran-koran hanya untuk melihat kabar baik di dalamnya. Meyakinkanku bahwa kebaikan akan selalu ‘menang’. Begitu pesan yang bisa aku tangkap dari cerita pria aneh tadi.
Pria aneh itu tetap semangat meskipun panas matahari membakar kulitnya yang memang sudah hitam. Dia meneruskan ceritanya, membuatku ingin berteriak dan menyesali kesia-siaan hidupku selama ini. Selain itu, membuatku bersyukur karena dilahirkan di tengah keluarga yang menginginkanku lahir di dunia.

Dia menceritakan tentang bayi-bayi yang tak berdosa yang karena keberadaannya tidak diinginkan maka dibunuh dengan cara diaborsi. Aku jadi merasa bersalah pada Mama, karena tiga hari lalu tega mendiamkannya hanya karena tubuh rentaku yang aku rusak sendiri dengan tidak dibolehkan istirahat. Maaf ya ma. Aku juga merasa bersalah pada Ayah, meskipun terlihat cuek dan tidak peduli, sebenarnya aku tahu dia sangat amat khawatir padaku. Aku jadi ingat pesan Ayah waktu aku sering pulang malam. “Kak, kalo pulang malam terus bannya bocor langsung pulang aja ya. Gak usah ditambal, takut ada yang ngawasin,” begitu katanya. Ah.. aku durhaka karena terlalu egois mengutamakan alasanku sendiri.

Tiba waktunya pria aneh itu menceritakan tentang kelahiranku, waktu itu hari jumat. Tepat usai para pria muslim menunaikan ibadah shalat jumat. Waktu pertaruhan antara hidup dan mati yang dialami Mama. Saatnya aku harus ucapkan selamat tinggal pada alam rahim, melewati terowongan Vaghana yang seketika menghilangkan ingatanku selama di alam rahim.

Raut muka pria itu sedih, dia bilang sendiri kalau dia sedih. Karena dengan menceritakan tentang kelahiran, itu artinya dia akan menamatkan ceritanya tentang alam rahim. Dengan kata lain, ia harus pamit dan tidak akan bertemu lagi dengan kliennya.

Dan saat itu tiba, dia telah usai bercerita tentang kelahiran. Setelah menghabiskan teguk minumannya yang terakhir, pria itu berpamitan dan tugasnya selesai. Dengan langkah yang terpincang-pincang dia mulai hilang dari pandanganku. Aku mengucapkan terimakasih atas cerita menariknya.

Kini, setelah beberapa hari pria itu tidak mendatangiku lagi, aku baru sadar. Jangan-jangan dia Dakka Madakka yang di ceritakan oleh juru dongeng Fahd. Perawakannya sama, ceritanya pun senada. Ya Tuhan.. aku terlambat menyadarinya. Ternyata dia adalah Dakka, si pengabar berita dari alam rahim. Maaf ya karena aku sempat sangsi pada ceritamu Tuan Dakka.


Dikutip dan disarikan dari Novel Rahim Karya Fahd Djibran.