Minggu, 29 Desember 2013

Jalan Di Kala Senja

Aku selalu suka saat senja mengintip malu-malu,
lalu pergi dan datang lagi esok hari
Kemudian pada lepas pantai aku bercerita tentang semilir angin yang kadang menyemburuimu

Di pelataran senja, awan menggantung pada sayap matahari
Meninggalkan kenangan yang hilir mudik memaki sejarah
Rebah dibatas pendar yang temaram tak selalu menenangkan,
Maka ku hitungi jejak-jejak misterius yang menuju ke arahmu

Sampailah kita di ujung jalan,
Kamu akan selalu jadi jalan pulang untukku
Kamu akan selalu jadi penuntun jalan untuk hatiku yang tersesat


Senin, 28 Oktober 2013

Melirik Pesona Pantai Sundak

Oleh Sinta Novizah


M
atahari sepertinya berangkat lebih pagi di kota ini. Gerombolan ayam saling bersautan, memecahkan mimpi yang akhirnya mendobrak kelopak mata. Selamat pagi Yogyakarta.

  
 Semilir angin sebagai aksen langit hari ini, sayang jika hanya dilewatkan untuk Bermanja-manjaan dengan tempat tidur. Alasan itu yang membawa langkah kaki makin gesit mengintimkan diri ke desa sidoharjo, Tepus, Gunung Kidul. Sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota Yogya, mata akan di manjakan oleh alunan musik syahdu yang di ciptakan deburan ombak menjahili karang, belum lagi sajian pemandangannya. Semua itu dapat dinikmati secara gratis, cukup hanya dengan membayar parkir kendaraan saja jika membawanya. Tidak melulu karena ombak dan pemandangannya koloni manusia terhipnotis dan berbondong-bondong menengoknya, jejak sejarah tentang pantai sundak pun manis untuk di ketahui.



Berada di koordinat S8°8'47.8" E110°36'27.3", pantai sundak menyimpan cerita dan berevolusi dengan bukti geologi yang bisa di lacak. Sisi barat pantai terdapat masjid dan tanah lapang yang di manfaatkan untuk jejeran mobil, sedangkan sisi sebelah timur kokoh berdiri gua yang terbuat dari karang. Di dalam batu karang setinggi 12 meter itu, tersimpan mata air yang menjadi sumber air tawar warga sekitar.


Menelisik jejak sejarah pantai sundak, biasanya siap berdiri lelaki tua di sekitar tempat parkir. Mbah Tugiman, begitu biasa disapa—salah satu sesepuh di pantai sundak. Sekitar tahun 30-an, sisi barat dan timur pantai masih terendam air. Seiring proses geologi yang mendatangi pantai selatan, permukaan laut menyusut dan air lebih menjorok ke laut.  Hal ini yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk membuka lahan aktivitas ekonominya yang masih berlangsung hingga kini.


Sebelum menyandang nama Sundak, pantai ini bernama pantai Wedibedah yang berarti pasir yang terbelah. Sebab muasal datangnya sapaan itu, karena fenomena alam unik terjadi di pantai ini. Jika musim hujan bersandang, sekelompok air dari daratan numpang lewat menuju lautan. Akibatnya, menyajikan pemandangan seperti sungai yang membelah pasir di dataran sebelah timur pantai. Lain hal jika kemarau datang, air laut berlari menyertakan pasir yang dengan segala kerelaannya terbawa oleh ombak pantai.

Jauh setelah penamaan itu, pada tahun 1976 Wedibedah bertransformasi menjadi Sundak. Penyebabnya adalah perkelahian antara seekor anjing dengan seekor landak laut. Perkelahian itu dimenangkan oleh seekor anjing, dan landak laut pun harus merelakan dirinya menjadi santapan si anjing yang lapar. Perkelahian itu diketahui oleh sebagian warga yang kemudian mengganti wedibedah menjadi sundak—Singkatan dari asu (anjing) dan landak.

Singkat cerita, perkelahian antara anjing dan landak laut itu tidak hanya memberi pengaruh terhadap pergantian nama pantai itu. Tetapi juga memberikan dampak positif untuk penduduk sekitar yang kecewa karena sumur air tawar yang telah di bangunnya tergenang air laut. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air di dalam gua tempat si anjing dan landak berkelahi.



Awan menggelap, pertanda angin malam akan menampakkan perangainya. Suasana malam di pantai sundak juga bisa dinikmati berteman ikan mentah untuk disantap bersama teman. Keluarkan uang beberapa ribu dari dompet, maka kayu bakar pun akan segera melengkapi. Kalau tak selera mengolahnya sendiri, pesan saja yang siap santap. Tidak perlu galau mengenai tempat bermalam, Pengunjung bisa tidur di mana saja. Atau mendirikan tenda menjadi pilihan? Jangan bingung, bangku warung yang kalau malam tak terpakai juga bisa menjadi pilihan akhir. Tak perlu meributkan kegelapan, bukankah membosankan jika hidup terus terang benderang?

Ayo cicipi keindahan pantai sundak, bintang laut dan teman-temannya sudah tak sabar bermain bersama!


referensi: YogYES.COM

Rabu, 04 September 2013

Agustus—Kakak

Agustus.
Bulan yang sesak, menghabiskan liburan hanya dengan aktifitas yang berulang dan membosankan—pastinya bukan pilihan yang baik. Semoga hari kalian tak serupa J

Sebelumnya, gue mau ngasih tau (lagi) nih. Tujuan adanya blog ini, emang buat mendokumentasikan yang gue lewati dan rasakan melalui aksara. Jadi, jangan kaget kalo isinya ya tentang gue (meskipun gak semuanya).

Postingan bulan ini, gue mau memperkenalkan kakak gue satu-satunya. Yap, bunda dari Fahsya. Meskipun pernah sedikit menyinggung tentang kakak. Kayaknya kurang afdhol deh kalo belum detail.
Namanya Santi Lolita, interval umur dia ke gue tujuh tahun satu bulan.
Beda sama gue yang cerewet dan ekstrovert, kakak gue lebih girly dan introvert (walaupun di buku tahunan SMPnya dia di bilang tomboy, karena berambut pendek dan suka naik motor dengan kecepatan lumayan tinggi). Tapi menurut gue, dia itu lebih cewek dari gue. Meskipun kadarnya masih dibawah ade gue.

Seperti yang udah di sebutin sebelumnya, dia sekarang udah berkeluarga dan mempunyai seorang putra yang “super”. Semenjak dia berkeluarga, kedekatan gue sama dia makin baik. Engga tau kenapa, saat saudara lu yang biasanya gak akur dalam hal apapun tiba-tiba ninggalin lu untuk membangun sebuah keluarga baru, itu rasanya kehilangan banget.
Ya, layaknya saudara—pasti pernah dong berantem (sewajarnya). Bahkan hal kecil aja kadang bisa memicu “adu mulut” antar saudara. Dulu (sebelum menikah), gue nganggep kakak gue adalah orang yang tukang merintah, galak dan dingin.

Sejak kecil, gue emang manja. Suatu ketika, kakak gue sama sepupu mama gue sekaligus yang jagain gue (Karna mama gue bekerja) minta izin buat ke cipanas, puncak—rumah langganan mama memasok tanaman hias. Gue ngambek minta ikut, kakak gue bersikeras gak ngizinin. Tapi gue tetep ngambek mau ikut. Waktu itu umur gue sekitar 6 tahun. Hampir dua jam perjalanan, akhirnya kita sampai. Gue senang, karna akhirnya kakak gue ngalah dan mengizinkan gue untuk ikut. Hahahaha

Malam pertama menginap, gue demam. Sampai pagi, demam gue gak turun juga. Akhirnya mama gue jemput ke puncak dan liburan mereka gagal karna gue. Lu bisa nebak dong, gimana ekspresi kakak gue….
Hah, dia ngambek. Bukan cuma sama gue aja, sama Mama gue juga -_-
Sejak itu, kakak gue gak suka kalo gue ngikutin dia. Kejam!

Tapi, persepsi itu berubah saat gue mulai ngerti semuanya. Ngerti gimana rasanya jadi kakak dan ngerti gimana rasanya (akhirnya) harus pisah rumah dari dia.
Dia penyayang, sayang banget malah sama gue. Cuma cara dia aja yang beda. Bukannya emang setiap orang punya cara yang berbeda ya buat nunjukin rasa sayang mereka? Termasuk gue. J

Ah…pokoknya, seberapa pun nyebelinnya kakak gue dulu. Gue sayaaaaaaaaang banget sama dia. Untuk setiap cobaan yang kita hadapin bareng, saling menguatkan dan tetap tegar untuk satu dan lainnya. I love you ka :’)

Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan kebahgiaan dalam setiap jalan yang dilaluinya J

Selasa, 16 Juli 2013

Tentang Beda

Ini tentang beda.
Ini tentang hal yang aku sendiri tak bisa mendefinisikannya.
Ini tentang aku dan kamu.
Ini tentang kita.
***

Di sebuah kota yang penuh polusi, kemacetan yang mencuat dan rutukan setiap orang yang tak habis-habis membayangi setiap langkah—tersimpan sebuah cerita tentang rasa yang terpendam. Tentang kemarahan pada batas, dan harapan yang hampir tidak mungkin.

“Aku manusia, dia juga. Apa yang membuat aku tidak pantas?” teriak seorang gadis dengan paras biasa saja di depan cermin.

Kemarahan itu kini berubah jadi isak tangis tak tertahan. Rintihan tentang dua hal yang tidak dimengerti parameternya, soal “pantas” dan “tidak pantas”.

***

Mungkin hukum alam, setiap yang diinginkan tidak dengan mudah bisa didapatkan. Tapi, jika usaha yang diatas rata-rata telah dilakukan dan hasilnya tetap saja sama, mungkin benar kata pepatah—Bagai pungguk merindukan bulan.

Kegamangan semakin bertambah menyergap seorang gadis yang termenung di atap sebuah gedung. Saat itu rintikan hujan paling mengerti tentang candu yang menerjang, dan angin turut membisikkan petuah penuh arti.

“Biarkan aku melebur bersamamu dan dia akan mengerti,” ungkapnya seraya menuruni anak tangga.

***




Hai, aku mengenalmu baik meskipun kamu tidak mengenalku.

Aku tahu, kamu suka gadis bermata bulat.
Setidaknya, mataku lebih bulat dari matamu.
Aku juga tahu, kamu suka dengan gadis yang berkulit bersih.
Ya, itu bukan aku. Tapi, aku berusaha untuk hidup sehat.
Itu sudah cukup belum untukmu?

Oh ya, satu lagi…
Katanya kamu suka dengan gadis berambut hitam dan panjang.
Untukmu, enam bulan ini aku mulai memanjangkan rambutku.
Meskipun tidak terbiasa dengan rambut panjang, karena panas dan ribet.
Tapi aku berusaha untuk jadi yang kamu mau J

Tiba-tiba isak tangis itu datang lagi.

Hhm…aku sudah berusaha, tapi aku gak bisa.
Rambut ini perlahan menyerah. Sehelai, dua helai dan semuanya.
Seperti yang kamu lihat, aku tidak lagi berambut panjang.

Tarikan nafas yang panjang menjeda.

Mungkin aku juga begitu.
Aku menyerah untuk tetap bertahan buatmu.

Sejak pertama kali aku melihatmu, semangatku untuk sembuh meningkat.
Aku berusaha untuk kuat agar bisa lebih jauh mengenalmu.

Meskipun setiap harinya aku mengunjungi tempatmu bekerja—untuk bertemu dengan butiran yang dapat membuatku lebih lama bertahan, nyatanya kamu sedang melihat video ini.

Aku sudah jadi hal yang lain. Aku dan kamu kini beda.
Terima kasih atas waktunya mendengarkan kejujuran terakhirku.
Akan ku titipkan rasa ini pada sekeping memori yang dapat memutarku diharimu.
Akan ku sampaikan rasa ini pada Tuhanku, mungkin juga Tuhanmu.

***

Senin, 01 Juli 2013

Baduy – Cerita tentang Juni yang Terlambat

Bentara Budaya Jakarta
Juni yang penuh. Akhirnya kita ketemu juga ya di penghujung ini, meskipun agak terlambat :)

Oh ya, bulan ini sebenernya gue mau cerita tentang kegiatan di pertengahan juni kemarin. Jadi, tanggal 15, 16 juni kemarin gue gabung sama Bentara Budaya Jakarta buat hiking ke suku pedalaman Baduy. Wah seru banget.

Kali ini, gue cuma sama widi. Karena satu hal dan lainnya, Upi sama DJ gak bisa ikut. Banyak banget pengalaman yang gue dapet disana.


Sabtu, 15 Juni 2013
Diawali dengan telat bangun, gue memulai perjalanan ke stasiun Tanah Abang di anter Ayah gue dengan terburu-buru. Udah ada Nafis sama Tyo yang jadi Contact Person dari Bentara Budaya nunggu disana. Jam 8 lewat 2 menit gue sampai disana, ternyata rombongan udah pada berangkat dan kita bertiga ketinggalan kereta. Ya… jangan ditanya penyebabnya apa, tentu gara-gara gue. Gak perlu gue beralibi ini itu deh ya buat menjelaskan kesiangan gue. Untungnya Nafis sama Tyo baik banget loh mau nungguin gue yang telat yang berujung naik kereta ekonomi tanpa AC. Beruntungnya lagi sih dapet duduk, kalo engga…… tambah ga enak hati gue sama mereka.

Widi berangkat sendiri dari stasiun pondok ranji dan ketemuan di stasiun rangkas bitung sama rombongan. Tumben banget tuh si widi berani jalan sendiri, hahaha

Cerita punya cerita, ternyata kita satu kereta Cuma beda gerbong aja. Tau gitu gue samperin. Kasian dia, masa dititipin sama anak yang baru lulus SMA sama Mamanya :p
Gue agak lupa sampe stasiun Rangkas bitung jam berapa, kalo gak salah sih jam 10. Rombongan yang terdiri dari 40 orang dengan asal kampus beraneka ragam udah stay nunggu yang telat. Ya…. GUE!


Perjuangan Mendaki bukit per bukit
Setelah gue sampe stasiun rangkas bitung, hal yang pertama gue lakuin adalah mencari widi yang terpisah sendirian. Setelah ketemu, kita menuju mobil angkot yang udah panitia charter. Dua jam perjalanan menuju desa Ciboleger, titik awal pendakian menuju desa Cibeo, Baduy dalam.

Sekitar abis dzuhur, kita mulai naik. Baru sampai gerbang Selamat datang di Baduy aja gue udah bercucuran keringat. Tentu buat sampai ke desa Cibeo butuh perjuangan serta semangat yang ++. Katanya sih lima jam perjalanan menuju ke Cibeo, tapi setelah dijalanin butuh 8 jam perjalanan sampai disana. Hal itu dikarenakan cuaca yang kurang mendukung. Sore, saat kira-kira kita baru menaiki dua bukit dari delapan bukit yang harus di daki, hujan turun. Hal itu menambah sulit medan yang harus di lewati. Selain jalan yang licin penuh dengan tanah merah, tas yang besar dan berat juga jadi penyebab melambatnya perjalanan kita. Belum lagi stock air yang semakin menipis. Itu tuh yang sempat buat gue mikir, “gue bias sampe tujuan gak ya”.
Matahari berpamitan



NAIK!!!!!!


Rintangan semakin jadi setelah matahari pamit dan berganti pekat. Jalanan licin masih setia menemani meskipun hujan sudah bergegas pergi bersama pemandangan indah matahari terbenam di atas bukit.

Wah, ini toh rasanya berada ditengah hutan malam hari dengan jurang di kanan kiri.

Meskipun award jatuh terbanyak bukan dipegang sama gue, tapi gue juga sempat mencicipi rasanya berseluncur ditanah merah. Pakaian,  tas, sepatu gue udah berganti warna semua. Belum lagi rambut, muka dan bau gue yang udah gak bisa didefinisikan. Hahaha, Seru!

Saat perjalanan, kita ketemu sama binatang-binatang khas hutan. Ular, kalajengking, kelabang, lintah, aaahhh udah gak ada waktu untuk manja-manja sok ketakutan. Hanya perlu waspada supaya mereka gak nyerang kita.

Hal yang ditunggu-tunggu datang juga. Jembatan penghubung buat sampai di Cibeo keliatan, bergantian melewati jembatan itu supaya gak jatuh dan akhirnya sampai juga di rumah warga yang bisa kita inapi.

Yang pertama kita lakukan pastinya bersih-bersih. Jangan harap kita bisa bersih-bersih di kamar mandi. Karena disana hanya ada sungai yang bisa dipakai untuk mandi dan kegiatan ke-kamar mandian lainnya. Legowo aja yaaaaa….

Setelah selesai membersihkan semua tanah yang melekat di tubuh. Tanpa sabun tentunya, karena salah satu larangan untuk bermalam di Baduy dalam adalah tidak menggunakan sabun. Selain itu, tidak mengaktifkan semua barang-barang elektronik seperti handphone, kamera dan sebagainya. Jika itu dilanggar, konsekuensinya adalah pengusiran detik itu juga. Gak kebayang kan kalo lu harus pulang tengah malam buta dengan keadaan cape dan bayang-bayang perjalanan yang melelahkan. Gue sih gak mau!

Sebelum istirahat dan makan malam, kita ada acara ngobrol-ngobrol sama guide dan tuan rumah. Seru deh pokoknya, gue jadi lebih tahu tentang suku baduy, khususnya baduy dalam.

Waktunya istirahat………….


Minggu, 16 Juni 2013
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…… semua panik. Alarm siapa itu yang bunyi?

Ternyata teman disamping gue yang alarm hapenya bunyi. Panik, sang pemilik masih kebingungan buat matiin tuh alarm. Karena gue ikutan panik, gue rebut itu hape dan cabut batrenya. Huh, akhirnya.

Sebelumnya, gue udah sempet ke sungai subuh-subuh sama lelly dan mbak ika. Nganterin mereka melakukan panggilan alamiah yang selalu datang di pagi hari. Apalagi malam disana beda sama Jakarta. Dingin banget.
Bersama anak-anak Baduy
Tragedi alarm gak hanya terjadi satu kali, untuk kedua kalinya dengan pelaku yang sama alarm dari hape lainnya bunyiiiii. Kali ini udah menimbulkan krasak krusuk di dapur si mpunya rumah. Untung gak sampe ada pengusiran ya.

Jam 9 lewat dikit kita pamit dan bersiap buat ninggalin desa Cibeo. Sebelumnya udah banyak yang belanja oleh-oleh. Dari gelang, gantungan kunci, sarung tenun sampai madu buat buah tangan sanak saudara. Gue gak beli apa-apa, karena yang ada dipikiran gue adalah beban tas yang berat bertambah berat kalo gue beli lain-lain.

Ternyata, akhirnya gue pake porter buat bawain tas gue. Huh, agak nyesel gak beli oleh-oleh L

Porter hebat

Oh ya, Porter gue itu anak-anak dari suku baduy loh. Mereka hebat banget, satu orang bawa banyak tas yang semuanya berat. Belum lagi medan yang terjal dan menanjak, Salute banget deh gue sama mereka.

Kita lewat jalan yang berbeda dengan jalan keberangkatan. Lebih cepat, Cuma lebih curam dan melelahkan. Kata guidenya sih jalan itu lebih sulit kalo kita laluin pas berangkat, makanya gak lewat situ.

Jalan yang paling tak terlupakan adalah jalan memanjat yang gak ada ujungnya. Bayangin aja, satu tanjakan dengan tiga kali istirahat. Yang jadi pengalaman lainnya, gue sempet ngerasain minum dari mata air langsung karena minum yang gue bawa habis. Seger kok airnya.

Gue sama widi sempet kesasar berdua doing di tengah hutan. Untungnya itu siang hari dan matahari lagi ceria-cerianya. Meskipun jalan yang kita laluin bener, tetep aja deg deg ser Cuma berdua di tengah hutan. Sempat nanya sama penduduk situ, Cuma agak bingung karena masih banyak penduduk asli situ yang gak bisa bahasa Indonesia. Mereka hanya bisa berbahasa sunda.

Sesampainya di desa Ciboleger, titik awal dan akhir dari perjalanan ini. Sepatu gue udah ngambek. Basah, kotor dan gak jelas bentuknya. Gue memutuskan untuk membeli sandal jepit dengan harga sepuluh ribu rupiah. Yaaaa, yang penting gue gak nyeker pulang ke rumah. Hahaha

Gue udah di sambut sama para porter yang udah sampe lebih dulu di bawah. Ngasih upah yang gak seberapa buat jasa mereka bawain tas gue yang cukup berat, gue nyari toilet umum buat pipis yang udah gue tahan-tahan beberapa jam lalu. Setelah itu, makan. Eh ternyata rombongan ngejar kereta, jadi setelah kloter terakhir sampe langsung berangkat. Mie gue belom mateng, akhirnya memutuskan untuk di bungkus. Gue makan di angkot, widi memiliih untuk dibawa pulang ke rumah. Gak kebayang itu bentuk mienya. Hahaha

Perjalanan dari desa Ciboleger ke stasiun Rangkas bitung terasa lebih lama di banding perjalanan sebaliknya. Gue pusing dan mabok perjalanan (lagi-lagi).

Gue gak ngerti pas pulang itu gue naik kereta apa, yang gue ngerti adalah buat naik ke gerbong kereta gue harus dibantu penumpang lain. Ih terima kasih loh mas-mas yang gue gak inget muka apalagi tahu namanya.

Hhhmmm… Bagian ini gue harus cerita gak ya?
Sekilas aja ya. Temen gue yang inisialnya widi, jatuh cinta di kereta. Ceritanya bisa dibaca sendiri disini ya.

Widi, niat turun di stasiun pondok ranji karena mamanya udah jemput disana. Tapi, ternyata keretanya gak berhenti di stasiun itu. Alhasil, gue nemenin widi turun di stasiun Kebayoran Lama. Dari situ gue naik angkot sekali dan minta jemput sama Mama gue di depan gang rumah gue.


Perjalanan yang bener-bener FUN dan penuh pelajaran deh pokoknya. Makasih buat teman-teman Bentara Budaya Jakarta :)
sempetin narsis dengan bentuk tak beraturan
Istirahat menikmati matahari terbenam di atas Bukit

Jumat, 24 Mei 2013

Teruntuk (calon) Anakku



Apa kabarmu sayang hari ini?
Ibu harap kamu selalu baik, sehat dan menjadi apa yang kamu mau.
Ini Ibu buat sebelum kamu lahir, bahkan (mungkin) saat Ibu dan Ayahmu masih dalam pemantasan diri. Kami masih saling mencari dan menemukan J

Sayang, jika nanti Ibu terlalu larut dalam pekerjaan yang Ibu geluti, Jangan takut kamu tak di cintai. Karena setiap hembus nafas Ibu, ada cinta untukmu.

Jangan juga takut tak terpantau. Karena setiap akhir bulan, kita akan berdestinasi bersama. Kamu, Ibu, Ayah, Adikmu atau Kakakmu.

Ibu akan mengajakmu mengajakmu berkenalan dengan Indonesia. Negeri indah dimana setiap jejak, Tuhan ciptakan dengan kasih sayang yang tak terkira.

Keindahan lautnya,
Kekayaan budayanya,
Keramahan masyarakatnya.
Gunung-gunung serta pemandangan yang terpapar dan wajib kamu ketahui. Kamu harus mencintainya, sayang.

Sayang, nanti Ibu akan mengajarimu membaca. Agar kamu bisa membaca apa yang Ibu tulis hari ini. Agar kamu bisa mengingatkan Ibu akan janji ini. Mungkin saja Ibu luput.

Anakku yang selalu membanggakan, nanti sampaikan pada nenek dan kakekmu ya, kalau Ibu sangat berterima kasih pada mereka. Karena memberikan Ibu kesempatan untuk membangun mimpi-mimpi dan merintis untuk mewujudkannya.

Buat Buah hatiku, peluk aku sesaat setelah kamu membaca ini.
Love you :* ({})

Rabu, 08 Mei 2013

Persembahan di penghujung April

Karena suka dengan lagu-lagu Fiersa, Rangers iseng-iseng bikin video clip dari salah satu lagu Fiersa Besari, Yaitu April. Video ini masih banyak kekurangan dan menerima masukan loh. Yuk di lihat :)



RANGERS PROJECT present

Singer : Fiersa Besari - @fiersabesari
Title : April
Talent : Dwi Widia Yuliani - @dwidiay, Sinta Novizah - @SNovizah, dan Muhammad Ilham - @MuhammIlham
Editor : Dwi Widia Yuliani, Luthfia Rachmi - @LRachmi, Sinta Novizah
Camera Person : Luthfia Rachmi
Co. Camera Person : Sinta Novizah

Kamis, 02 Mei 2013

Jalan Pulang


"Ikuti kata hatimu, temukan jalan pulang–temukan aku di setiap jejakmu,"

Heilga –

“Kita akan bertemu di ujung jalan sana, saat ini aku harus menapaki mimpiku,” katamu di akhir perjumpaan kita yang akan menjadi awal cerita.
***
365 hari yang lalu, kamu memilih untuk meninggalkanku bersama rasa yang telah lama kita susun.
Hari itu kamu membuat tubuhku tak berdaya, begitu juga hatiku yang terlanjur hancur.

“Apa mimpimu gak ada aku?” tanyaku sendu.
“Bukan begitu, aku takut kamu gak bisa tahan sama keadaan nanti,” jawabmu.
“Kamu yang gak bisa bertahan untuk tetap ada aku!”
Aku marah, pergi dan sebisa mungkin tak menoleh.

Itu pertemuan terakhir kita, 168 jam kemudian kamu pergi menjemput mimpimu.
Tanpa peluk perpisahan dariku.
***
Suatu hari, di batas senja yang menaungi langit kita yang terpisah jarak— aku kembali menyelami dermaga kenangan yang mengabadikan kisahmu, kisahku. Aku rindu kamu.

“Semoga Tuhan selalu mengundur perpisahan kita,” doamu di hari terik dengan semilir angin menggoda di kota kita.
Hanya ku balas senyum, sebenarnya bercampur haru. Dengan perasaan yang berbunga, tak pernah aku berpikir kamu akan tega meninggalkanku.
Kamu menggenggam tanganku, merambat ke hatiku.
***
Lamunanku di teras rumah terhenti saat deringan ponsel mengembalikanku pada kenyataan.
“Aku pulang heilga, aku mau menjelaskan banyak hal sama kamu. Bisa kita ketemu?” tanpa basa-basi suara yang akrab di telinga itu terdengar.
***

Ferno—

“Kita akan bertemu di ujung jalan sana, saat ini aku harus menapaki mimpiku,” kataku di akhir perjumpaan kita yang akan menjadi awal cerita.
***
365 hari yang lalu, aku memilih untuk mengakhiri kebersamanku dengan seorang gadis yang wajahnya selalu dilukiskan oleh langit dikala matahari perlahan pamit.
Hari itu mungkin aku sudah membuat hatinya hancur. Maafkan aku.

“Apa mimpimu gak ada aku?” tanyamu dengan tangis tertahan.
“Bukan begitu, aku takut kamu gak bisa tahan sama keadaan nanti,” jawabku.
“Kamu yang gak bisa bertahan untuk tetap ada aku!”
Kamu marah, pergi Dan tak sedikitpun menoleh padaku.

Itu pertemuan terakhir kita, 168 jam kemudian aku pergi menjemput mimpiku.
Tanpa peluk perpisahan darimu.
***
Suatu hari, di batas senja yang menaungi langit kita yang terpisah jarak— aku kembali menyelami dermaga kenangan yang mengabadikan kisahmu, kisahku. Aku rindu kamu.

“Ferno, kamu yakin gak kalo suatu hubungan akan baik baik saja tanpa komunikasi baik?” Tanyamu di hari terik dengan semilir angin menggoda di kota kita.
“maksudmu?” Aku pura-pura tak mengerti.
“Kamu percaya Long Distant Relationship?” Jelasmu singkat.
Belum sempat mengemukakan pendapatku, kamu sudah menjawab sendiri pertanyaanmu. “Aku enggak,” Tegasmu sembari melempar senyum untukku.

Seketika aku dibungkam oleh senyum indahmu, lenyap semua jawaban yang sedari tadi ingin aku ungkapkan. Kamu memang begitu, selalu membuat aku terhipnotis dengan lengkungan bibir yang kamu sodori.

Heilga, Jika kamu ingat hari itu, tentunya kamu akan mengerti keputusanku untuk meninggalkanmu. Hanya sementara Heilga, sampai aku bisa menaklukan mimpiku dan membangun mimpi baru bersamamu.
***
Hari ini, aku menapaki kembali tanah kota yang pernah kita jejaki. Segera aku mengambil ponsel di kantong celana dan menghubungimu, “Aku pulang heilga, aku mau menjelaskan banyak hal sama kamu. Bisa kita ketemu?”
***
Sampailah kita di ujung jalan, Kamu akan selalu jadi jalan pulang untukku. Kamu akan selalu jadi penuntun jalan untuk hatiku yang tersesat.

Jumat, 05 April 2013

Backpacker bukan Backpacker

Hallo April, ketemu kamu lagi di tahun ini. Jadi April yang baik yaaa :)

Oh iya, gue mau cerita tentang akhir pekan gue di bulan maret lalu nih :D
Jadi, libur kemarin gue isi dengan jalan-jalan bareng Anita sama Febi ke Bandung. (Kali ini gak bareng Rangers)
Bandung oh Bandung
Jalan-jalan ini sebenernya udah di rencanain lama, cuma karna satu hal dan lainnya. Jalan-jalan ini ke skip, lupalah gue sama rencana ini.

Tapi ternyata, di awal minggu akhir Maret, si Febi ingetin gue dan bilang kalo Nita udah cancel acara sama temen-temen kampusnya cuma buat jalan bareng kita. Paniklah gue, selain itu terselip perasaan gak enak sama wanita berhijab itu~ (aiiiih apa banget deh gue hahaha *peace nita*)

Gue langsung browsing tempat penginapan yang gak cekik dompet gue. hehehe, maklum itu kan akhir bulan.
ketemu deh tuh info penginapan murah. Makasih banget loh infonya :D

Setelah melakukan pertemuan mendadak, akhirnya kita nelponin beberapa hotel low budget di Bandung. Oke, semuanya masih punya kamar kosong buat hari Jumat.

Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii........salahnya kita gak langsung reservasi kamar buat hari itu.
Alhasil, sehari sebelum kita berangkat, kita baru reservasi kamar. Dan engingeeeeeng... Kamar full.
Huaaaaah....baca whatsapp Anita yang bilang kalo semua kamar full, gue yang lagi di kampus dan menjalankan jadwal kuliah yang full langsung shock. Yang hebatnya lagi, gue lagi berjihad menuntut ilmu yang bisa mengantarkan pada skripsi. METODOLOGI PENELITIAN.

Entah kebetulan atau emang sengaja, dosen yang ngajar gue lupa waktu. Jam 5 sore dia masih berbaik hati, ngoceh di depan kelas :'(
Gue lupa kalo ada janji ketemu senior juga sore itu, karena kepala gue udah nyut nyutan mau meledak, gue batalin deh pertemuan itu. huhuhuhuhu (Maap ya Winan :p)

Pulang dengan buru-buru, gue masih bergelut dengan internet buat browsing hotel murah di bandung.
Gue baru nemu lagi hotel dengan harga 90rb/kamar buat 3 Orang. (Lupa alamat webnya apa, nama hotelnya juga lupa)
sayangnya, di web itu udah di tulis buat tgl 28-30 maret ful... habis... full.

Sempat putus asa, karena lebih dari 20 hotel low budget di bandung sudah penuh.
Tapi banyak pengalaman lucu saat telp. satu persatu hotel di bandung yang no.nya terpampang di google. hahahaha
Mulai dari salah sambung sampe di buat shock sama kamar yang harganya 800rb. (Untungnya udah penuh, untungnyaaaa, hahaha)

Dengan proses pengambilan keputusan yang cukup rumit, akhirnya gue, nita sama febi mutusin buat tetep jalan ke bandung dan mencari penginapan secara on the spot. Hari itu hari Jumat pukul 00.59 WIB.

Pagi cerah penuh ceria kita jalani, naik busway ke lebak bulus dan naik bus eksekutif primajasa dengan harga 50rb. Ternyata gue dan Anita mabuk perjalanan. hahahahaha

Setelah sampai di terminal leuwi panjang, kita makan bakso di sekitar situ. Wah ternyata lidah gue belum bersahabat sama rasa baksonya.

Sempet nanya-nanya sama ibu  penjaga warung tentang angkutan umum ke Braga, Kita akhirnya naik PPD arah Pasar baru dengan ongkos 2rb. Sebelumnya kita sempet lupa kalo hai itu hari Jumat, pastes pas masuk masjid dekat terminal, isinya cowok semua. hahahahaha

Kita turun di stasiun Bandung dan akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa dapet hotel murah dekat situ. Arimbi kalo gak salah namanya. Satu kamar plus ekstra bed, kita bertiga dikenakan biaya 115rb per malam. Ya, tempatnya seadanya, lumayan buat istirahat.

Istirahat sampe sore sembari jalan-jalan ke stasiun dengan niatan beli tiket kereta pulang ke Jakarta (akibat mabuk, jadi gak sanggup lagi naik bus, hehe)

Malamnya, kita jalan jalan ke Braga sekalian makan malam. Kita menjatuhkan pilihan di The KIOSK Braga city walk. hhhhhm... biaya makan di tempat ini lumayanlah yaaaa, tapi gak bisa di sebut backpacker kalo setiap makan biayanya segitu hahaha

Dinner at The KIOSK, Braga City Walk
Pulangnya, kita keliling Braga. Tapi keterusan dan akhirnya nyasar malem-malem di Bandung.
Sampe hotel, kaki kita sedikit pegal. karena setelah di liat dari google map, perjalanan kita memang CUKUP jauh, hohohoho



Sabtu, 30 Maret 2013. kita check out dari hotel. Sebelum pulang kita jalan jalan ke Dago dan cihampelas.
Di dekat persimpangan Dago kita makan di MnM CAF'E. Murah dan enak enak makanannya.
Kita juga mampir ke Kartika sari dan beberapa Factory Outlet di sekitaran Dago.

Makan siang di sekitar Dago

Setelah itu kita menuju Cihampelas dengan angkot berwarna hijau. (Lupa kalo hampir semua angkot disana warna hijau, haha) Kita lewatin Kebun Binatang Bandung, Babakan siliwangi dan jalan lainnya yang gue gak inget nama-namanya. Bandung juga macet ya kayak Jakarta.


Di Cihampelas kita menemukan jalan pulang, aiiih hahaha
Kita akhirnya mesen travel pulang ke Jakarta. X-Trans. Pelayanannya emang bagus, tepat waktu dan gue gak mabuk perjalanan naik itu. hahahahaha

Dengan kartu mahasiswa, kita kena biaya 70rb.
Disitu kita juga sempat ngobrol sama seorang bapak dari Kalimantan, seru denger ceritanya dia. Cuma baru mau bahas ttg anaknya yang kuliah di TELKOM Bandung, Armada yang jemput bapak itu udah dateng.

Di Cihampelas, kita jalan jalan ke Ciwalk dan sekitarnya. Makan ice cream di KFC dan membawa pulang sebuah tas. hahahaha

Jam 18.00 Kita kembali ke tempat travel. setelah maghriban, Travel mengantarkan kita ke Jakarta.
Liburan selesai, dan kangen sering datang menyergap untuk mengulang kembali kebersamaan kita, curhat jujur kita dan suasana sabtu malam di Bandung :)

Sinta, Febi dan Anita <3 font="">

Senin, 11 Maret 2013

Curhat (Lagi) Yaaaaaa

Hallo maret, mau curhat (lagi) nih, hehehe
makasih ya udah jadi wadah penampungan setiap rasa :)

Kalo kalian, apa perbedaan spesifik yang menjadi ukuran kedekatan seseorang?

Kalo gue sih banyak, salah satunya berani meluapkan kemarahan.
Jadi gini, gue gak berani marah sama orang yang baru gue kenal atau orang yang gak terlalu dekat sama gue kalo dia melakukan hal yang gue anggap bakal merugikan dirinya sendiri (meskipun cuma pandangan subjektif). 

Nah! kalo sama orang yang udah deket, gue bakal bisa marah-marah sama dia. Maklum gue emang orangnya gitu, kadang suka gak nyantai hehehe. Jadi kaya emak-emak kos yang galak gitu. *maaf ya semuanya, susah emang menghilangkan kebiasaan buruk itu*
dan cuma orang-orang hebat yang masih setia bertahan di samping gue. tapi love them so much lah :* :*

Fenomenanya, gak sedikit yang gak terima perlakuan gue itu. huh, tapi udahlah ya, kan gak bisa maksa buat mereka tetap bertahan menuju gue yang lebih baik lagi.

Jadi, gue bakal ngulas kenapa gue suka begitu dan keburukan gue lainnya. Kan bukan cuma kebaikan yang harus diulas, keburukan juga boleh kan. Anggap aja kontemplasi pribadi secara publik *apaan sih ini, ahaha* Tapi sekarang jahat gue udah mulai berkurang kok :D *Alhamdulillah*

Karena takut orang-orang terdekat gue terluka *aih bahasanya* makanya gue suka ngasih pendapat walau mereka gak minta. Berbekal kepekaan lebih yang gue miliki, kalo kata si Cupil sih berkat ke Kepo-an gue, gue bisa tau apa yang udah terjadi sama orang-orang terdekat gue secara garis besarnya walau mereka belum cerita.

Cuma emang kadang-kadang caranya salah, tapi terkadang emang harus gitu biar mereka ngerti maksud gue. Tinggal merekanya aja gimana menangkap pesan dari kemarahan gue. Oh iya, marah yang gue maksud bukan marah yang "duar duar duar" ya. Marah yang gue maksud adalah marah yang di ungkapkan dengan suara dan kata-kata tegas dan apa adanya. Gue males bertele-tele untuk nyampein suatu maksud. Meskipun gue suka beranalogi. Gue juga gak suka ngotorin mulut gue dengan kata-kata kasar.

Selain suka marah-marah, gue juga Bosenan. Aaaaaah, tapi mereka emang hebat. Mereka gak pernah buat gue bosen, merea selalu buat gue nyaman. Makasih yaaaaaa :D

Gue paling males bergulat dengan sesuatu yang monoton. Apalagi sama sesuatu yang bikin suasana hati gue amburadul. Bikin gue jadi punya "penyakit hati". Gue bakal cepet banget Bosen.

Karena kebosanan gue udah datang dan ternyata masih banyak keburukan yang gue belum ulas, mungkin dilain waktu gue bakal lanjutin ya, hehehehe

Sekali lagi maaf dan terima kasih ^^