Selasa, 16 Juli 2013

Tentang Beda

Ini tentang beda.
Ini tentang hal yang aku sendiri tak bisa mendefinisikannya.
Ini tentang aku dan kamu.
Ini tentang kita.
***

Di sebuah kota yang penuh polusi, kemacetan yang mencuat dan rutukan setiap orang yang tak habis-habis membayangi setiap langkah—tersimpan sebuah cerita tentang rasa yang terpendam. Tentang kemarahan pada batas, dan harapan yang hampir tidak mungkin.

“Aku manusia, dia juga. Apa yang membuat aku tidak pantas?” teriak seorang gadis dengan paras biasa saja di depan cermin.

Kemarahan itu kini berubah jadi isak tangis tak tertahan. Rintihan tentang dua hal yang tidak dimengerti parameternya, soal “pantas” dan “tidak pantas”.

***

Mungkin hukum alam, setiap yang diinginkan tidak dengan mudah bisa didapatkan. Tapi, jika usaha yang diatas rata-rata telah dilakukan dan hasilnya tetap saja sama, mungkin benar kata pepatah—Bagai pungguk merindukan bulan.

Kegamangan semakin bertambah menyergap seorang gadis yang termenung di atap sebuah gedung. Saat itu rintikan hujan paling mengerti tentang candu yang menerjang, dan angin turut membisikkan petuah penuh arti.

“Biarkan aku melebur bersamamu dan dia akan mengerti,” ungkapnya seraya menuruni anak tangga.

***




Hai, aku mengenalmu baik meskipun kamu tidak mengenalku.

Aku tahu, kamu suka gadis bermata bulat.
Setidaknya, mataku lebih bulat dari matamu.
Aku juga tahu, kamu suka dengan gadis yang berkulit bersih.
Ya, itu bukan aku. Tapi, aku berusaha untuk hidup sehat.
Itu sudah cukup belum untukmu?

Oh ya, satu lagi…
Katanya kamu suka dengan gadis berambut hitam dan panjang.
Untukmu, enam bulan ini aku mulai memanjangkan rambutku.
Meskipun tidak terbiasa dengan rambut panjang, karena panas dan ribet.
Tapi aku berusaha untuk jadi yang kamu mau J

Tiba-tiba isak tangis itu datang lagi.

Hhm…aku sudah berusaha, tapi aku gak bisa.
Rambut ini perlahan menyerah. Sehelai, dua helai dan semuanya.
Seperti yang kamu lihat, aku tidak lagi berambut panjang.

Tarikan nafas yang panjang menjeda.

Mungkin aku juga begitu.
Aku menyerah untuk tetap bertahan buatmu.

Sejak pertama kali aku melihatmu, semangatku untuk sembuh meningkat.
Aku berusaha untuk kuat agar bisa lebih jauh mengenalmu.

Meskipun setiap harinya aku mengunjungi tempatmu bekerja—untuk bertemu dengan butiran yang dapat membuatku lebih lama bertahan, nyatanya kamu sedang melihat video ini.

Aku sudah jadi hal yang lain. Aku dan kamu kini beda.
Terima kasih atas waktunya mendengarkan kejujuran terakhirku.
Akan ku titipkan rasa ini pada sekeping memori yang dapat memutarku diharimu.
Akan ku sampaikan rasa ini pada Tuhanku, mungkin juga Tuhanmu.

***

Senin, 01 Juli 2013

Baduy – Cerita tentang Juni yang Terlambat

Bentara Budaya Jakarta
Juni yang penuh. Akhirnya kita ketemu juga ya di penghujung ini, meskipun agak terlambat :)

Oh ya, bulan ini sebenernya gue mau cerita tentang kegiatan di pertengahan juni kemarin. Jadi, tanggal 15, 16 juni kemarin gue gabung sama Bentara Budaya Jakarta buat hiking ke suku pedalaman Baduy. Wah seru banget.

Kali ini, gue cuma sama widi. Karena satu hal dan lainnya, Upi sama DJ gak bisa ikut. Banyak banget pengalaman yang gue dapet disana.


Sabtu, 15 Juni 2013
Diawali dengan telat bangun, gue memulai perjalanan ke stasiun Tanah Abang di anter Ayah gue dengan terburu-buru. Udah ada Nafis sama Tyo yang jadi Contact Person dari Bentara Budaya nunggu disana. Jam 8 lewat 2 menit gue sampai disana, ternyata rombongan udah pada berangkat dan kita bertiga ketinggalan kereta. Ya… jangan ditanya penyebabnya apa, tentu gara-gara gue. Gak perlu gue beralibi ini itu deh ya buat menjelaskan kesiangan gue. Untungnya Nafis sama Tyo baik banget loh mau nungguin gue yang telat yang berujung naik kereta ekonomi tanpa AC. Beruntungnya lagi sih dapet duduk, kalo engga…… tambah ga enak hati gue sama mereka.

Widi berangkat sendiri dari stasiun pondok ranji dan ketemuan di stasiun rangkas bitung sama rombongan. Tumben banget tuh si widi berani jalan sendiri, hahaha

Cerita punya cerita, ternyata kita satu kereta Cuma beda gerbong aja. Tau gitu gue samperin. Kasian dia, masa dititipin sama anak yang baru lulus SMA sama Mamanya :p
Gue agak lupa sampe stasiun Rangkas bitung jam berapa, kalo gak salah sih jam 10. Rombongan yang terdiri dari 40 orang dengan asal kampus beraneka ragam udah stay nunggu yang telat. Ya…. GUE!


Perjuangan Mendaki bukit per bukit
Setelah gue sampe stasiun rangkas bitung, hal yang pertama gue lakuin adalah mencari widi yang terpisah sendirian. Setelah ketemu, kita menuju mobil angkot yang udah panitia charter. Dua jam perjalanan menuju desa Ciboleger, titik awal pendakian menuju desa Cibeo, Baduy dalam.

Sekitar abis dzuhur, kita mulai naik. Baru sampai gerbang Selamat datang di Baduy aja gue udah bercucuran keringat. Tentu buat sampai ke desa Cibeo butuh perjuangan serta semangat yang ++. Katanya sih lima jam perjalanan menuju ke Cibeo, tapi setelah dijalanin butuh 8 jam perjalanan sampai disana. Hal itu dikarenakan cuaca yang kurang mendukung. Sore, saat kira-kira kita baru menaiki dua bukit dari delapan bukit yang harus di daki, hujan turun. Hal itu menambah sulit medan yang harus di lewati. Selain jalan yang licin penuh dengan tanah merah, tas yang besar dan berat juga jadi penyebab melambatnya perjalanan kita. Belum lagi stock air yang semakin menipis. Itu tuh yang sempat buat gue mikir, “gue bias sampe tujuan gak ya”.
Matahari berpamitan



NAIK!!!!!!


Rintangan semakin jadi setelah matahari pamit dan berganti pekat. Jalanan licin masih setia menemani meskipun hujan sudah bergegas pergi bersama pemandangan indah matahari terbenam di atas bukit.

Wah, ini toh rasanya berada ditengah hutan malam hari dengan jurang di kanan kiri.

Meskipun award jatuh terbanyak bukan dipegang sama gue, tapi gue juga sempat mencicipi rasanya berseluncur ditanah merah. Pakaian,  tas, sepatu gue udah berganti warna semua. Belum lagi rambut, muka dan bau gue yang udah gak bisa didefinisikan. Hahaha, Seru!

Saat perjalanan, kita ketemu sama binatang-binatang khas hutan. Ular, kalajengking, kelabang, lintah, aaahhh udah gak ada waktu untuk manja-manja sok ketakutan. Hanya perlu waspada supaya mereka gak nyerang kita.

Hal yang ditunggu-tunggu datang juga. Jembatan penghubung buat sampai di Cibeo keliatan, bergantian melewati jembatan itu supaya gak jatuh dan akhirnya sampai juga di rumah warga yang bisa kita inapi.

Yang pertama kita lakukan pastinya bersih-bersih. Jangan harap kita bisa bersih-bersih di kamar mandi. Karena disana hanya ada sungai yang bisa dipakai untuk mandi dan kegiatan ke-kamar mandian lainnya. Legowo aja yaaaaa….

Setelah selesai membersihkan semua tanah yang melekat di tubuh. Tanpa sabun tentunya, karena salah satu larangan untuk bermalam di Baduy dalam adalah tidak menggunakan sabun. Selain itu, tidak mengaktifkan semua barang-barang elektronik seperti handphone, kamera dan sebagainya. Jika itu dilanggar, konsekuensinya adalah pengusiran detik itu juga. Gak kebayang kan kalo lu harus pulang tengah malam buta dengan keadaan cape dan bayang-bayang perjalanan yang melelahkan. Gue sih gak mau!

Sebelum istirahat dan makan malam, kita ada acara ngobrol-ngobrol sama guide dan tuan rumah. Seru deh pokoknya, gue jadi lebih tahu tentang suku baduy, khususnya baduy dalam.

Waktunya istirahat………….


Minggu, 16 Juni 2013
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…… semua panik. Alarm siapa itu yang bunyi?

Ternyata teman disamping gue yang alarm hapenya bunyi. Panik, sang pemilik masih kebingungan buat matiin tuh alarm. Karena gue ikutan panik, gue rebut itu hape dan cabut batrenya. Huh, akhirnya.

Sebelumnya, gue udah sempet ke sungai subuh-subuh sama lelly dan mbak ika. Nganterin mereka melakukan panggilan alamiah yang selalu datang di pagi hari. Apalagi malam disana beda sama Jakarta. Dingin banget.
Bersama anak-anak Baduy
Tragedi alarm gak hanya terjadi satu kali, untuk kedua kalinya dengan pelaku yang sama alarm dari hape lainnya bunyiiiii. Kali ini udah menimbulkan krasak krusuk di dapur si mpunya rumah. Untung gak sampe ada pengusiran ya.

Jam 9 lewat dikit kita pamit dan bersiap buat ninggalin desa Cibeo. Sebelumnya udah banyak yang belanja oleh-oleh. Dari gelang, gantungan kunci, sarung tenun sampai madu buat buah tangan sanak saudara. Gue gak beli apa-apa, karena yang ada dipikiran gue adalah beban tas yang berat bertambah berat kalo gue beli lain-lain.

Ternyata, akhirnya gue pake porter buat bawain tas gue. Huh, agak nyesel gak beli oleh-oleh L

Porter hebat

Oh ya, Porter gue itu anak-anak dari suku baduy loh. Mereka hebat banget, satu orang bawa banyak tas yang semuanya berat. Belum lagi medan yang terjal dan menanjak, Salute banget deh gue sama mereka.

Kita lewat jalan yang berbeda dengan jalan keberangkatan. Lebih cepat, Cuma lebih curam dan melelahkan. Kata guidenya sih jalan itu lebih sulit kalo kita laluin pas berangkat, makanya gak lewat situ.

Jalan yang paling tak terlupakan adalah jalan memanjat yang gak ada ujungnya. Bayangin aja, satu tanjakan dengan tiga kali istirahat. Yang jadi pengalaman lainnya, gue sempet ngerasain minum dari mata air langsung karena minum yang gue bawa habis. Seger kok airnya.

Gue sama widi sempet kesasar berdua doing di tengah hutan. Untungnya itu siang hari dan matahari lagi ceria-cerianya. Meskipun jalan yang kita laluin bener, tetep aja deg deg ser Cuma berdua di tengah hutan. Sempat nanya sama penduduk situ, Cuma agak bingung karena masih banyak penduduk asli situ yang gak bisa bahasa Indonesia. Mereka hanya bisa berbahasa sunda.

Sesampainya di desa Ciboleger, titik awal dan akhir dari perjalanan ini. Sepatu gue udah ngambek. Basah, kotor dan gak jelas bentuknya. Gue memutuskan untuk membeli sandal jepit dengan harga sepuluh ribu rupiah. Yaaaa, yang penting gue gak nyeker pulang ke rumah. Hahaha

Gue udah di sambut sama para porter yang udah sampe lebih dulu di bawah. Ngasih upah yang gak seberapa buat jasa mereka bawain tas gue yang cukup berat, gue nyari toilet umum buat pipis yang udah gue tahan-tahan beberapa jam lalu. Setelah itu, makan. Eh ternyata rombongan ngejar kereta, jadi setelah kloter terakhir sampe langsung berangkat. Mie gue belom mateng, akhirnya memutuskan untuk di bungkus. Gue makan di angkot, widi memiliih untuk dibawa pulang ke rumah. Gak kebayang itu bentuk mienya. Hahaha

Perjalanan dari desa Ciboleger ke stasiun Rangkas bitung terasa lebih lama di banding perjalanan sebaliknya. Gue pusing dan mabok perjalanan (lagi-lagi).

Gue gak ngerti pas pulang itu gue naik kereta apa, yang gue ngerti adalah buat naik ke gerbong kereta gue harus dibantu penumpang lain. Ih terima kasih loh mas-mas yang gue gak inget muka apalagi tahu namanya.

Hhhmmm… Bagian ini gue harus cerita gak ya?
Sekilas aja ya. Temen gue yang inisialnya widi, jatuh cinta di kereta. Ceritanya bisa dibaca sendiri disini ya.

Widi, niat turun di stasiun pondok ranji karena mamanya udah jemput disana. Tapi, ternyata keretanya gak berhenti di stasiun itu. Alhasil, gue nemenin widi turun di stasiun Kebayoran Lama. Dari situ gue naik angkot sekali dan minta jemput sama Mama gue di depan gang rumah gue.


Perjalanan yang bener-bener FUN dan penuh pelajaran deh pokoknya. Makasih buat teman-teman Bentara Budaya Jakarta :)
sempetin narsis dengan bentuk tak beraturan
Istirahat menikmati matahari terbenam di atas Bukit