Rabu, 27 Februari 2013

Tak Sempurna : Semua wajib berkontemplasi




Judul Buku : Tak Sempurna
Penulis : Fahd Djibran, Bondan Prakoso &   Fade2Black
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Tahun Terbit : 2013
Tebal Halaman : 245 Hal





Terik matahari petang ini menemaniku menyantap lembaran terakhir sebuah buku. Tak Sempurna, demikian novel hasil kolaborasi Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black berjudul. Novel yang memiliki delapan belas bab dengan 245 halaman ini menyuarakan tentang sistem pendidikan di Indonesia. Sebagai seseorang yang telah melalui fase pendidikan menengah atas, rasanya setiap rangkaian kata yang menggambarkan peristiwa di bangku sekolah sangat nyata. Membawa pembaca kembali ke ruang kelas masing-masing dengan sejuta cerita di dalamnya. Cerita khas anak sekolahan, Guru yang menyebalkan, umpatan untuknya, paksaan menguasai pelajaran yang tidak disukai, bolos, tertawa, kemarahan, sudut kelas yang selalu jadi tempat favorit para guru menghukum anak-anak pembangkang. Hah, aku ingat!

Di novel ini, lebih di khususkan pada kegemaran para pelajar yang barangkali sudah menjadi “langganan” di hampir setiap sekolah. Ya, Tawuran antar pelajar.

Di wakilkan oleh Rama Aditya Putra, seorang pelajar di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menjabarkan pandangannya tentang sekolah. Meminta penjelasan tentang siapa yang harus di salahkan untuk kesemerautan pendidikan di Negara ini.

Rama, anak dari keluarga Broken Home yang bersekolah di lingkungan teman-teman yang nasibnya tidak jauh darinya, dia merasa ada yang salah dengan sistem pendidikan. Tempat menimba ilmu yang malah menjadi momok menyeramkan dan latar belakang pengenalan terhadap hal-hal negatif. Tempat lahirnya kata-kata kasar mulai menjadi bahasa sehari-hari yang dianggap lazim.

Minggu pertama memasuki sekolah, Rama dan teman-temannya di kenalkan oleh kekerasan yang dilakukan oleh senior-seniornya bahkan alumni dari SMAnya. Mereka di berikan “pencerahan” yang membawanya ke lembah hitam dan kemudian merubah kehidupannya 180o. Sejak saat itu, mereka harus membalaskan dendam yang sudah turun temurun namun tidak jelas diketahui alasannya.

Tawuran yang terjadi bahkan harus menghilangkan dua nyawa generasi harapan bangsa dari kedua belah pihak. Dua nyawa yang dipaksa melayang karena alasan yang sepele. Tawuran itu juga yang akhirnya membuat Rama mengikhlaskan kaki kirinya di amputasi, sekaligus merenggut salah satu cita-citanya–Olahragawan.

Namun, hal itu yang akhirnya membawa Rama pada pencerahan sebenarnya. Dari situ juga Rama menemukan kembali kebahagiannya yang sempat hilang atau luput dari pandangannya, Rama menemukan kembali sosok Ayah dan Ibu yang selama ini dia rindukan. Menemukan jalan pulang, tempat dimana dia menyimpan kebahagiaan masa kecilnya.

Meskipun pada awalnya sulit menerima kenyataan bahwa Kaki kirinya kini lebih pendek dari kakinya yang lain, Rama mulai bisa menerima keadaannya. Bahkan keadaan ini yang membawa Rama lebih dekat dengan Bunga, teman sekelas yang sejak lama di taksirnya.

Setelah kejadian yang luar biasa itu, kedua sekolah mengadakan rekonsiliasai yang tak ada hasilnya. Tawuran antar kedua sekolah tetap terjadi tujuh bulan setelah perdamaian itu. Rama bersyukur, dengan keadaannya sekarang dia tidak lagi bisa melakukan hal buruk yang membuatnya jatuh dilubang yang sama.

Masih banyak Rama di luar sana yang belum menemukan jalan pulang, masih belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang dilakukannya. Para Rama yang memecahkan jerawat batu dengan tawuran di jalan-jalan. Para Rama yang memecahkan jerawat batu pubertas dengan adegan-adegan telanjang di depan kamera atau tempat-tempat gelap yang rahasia. Mereka rayakan kesedihan dengan narkoba. Lalu siapa yang pantas disalahkan?

Di sekolah, Guru-guru bagai diktator yang meneror agar menanam pohon masa depan yang seragam­­–disiram hapalan dan dipupuki serangkaian ujian yang membuat takut. Tuan dan Puan pemerhati pendidikan menganggapnya anak-anak sampah dan tak punya masa depan. Para orangtua sibuk disaat mereka merindukan kasih sayang. Dimana pemerintah, penegak hukum dan pemuka agama? Kenapa pelajaran moral tidak sungguh-sungguh didapatkan dari lingkungan nyata? [1]

Menambahkan contoh selain Rama, aku menyelesaikan SMA di salah satu sekolah yang “hobi” tawuran. Sudah tentu, pelakunya teman-temanku sendiri, diantaranya kakak kelas yang harus tinggal kelas dan setrata denganku. Di sekolahku, banyak terdapat genk-genk yang tidak hanya dianggotai lelaki, beberapa dari mereka perempuan. Bulling rasanya juga menjadi catatan hitam dibeberapa sekolah, setiap angkatan di wajibkan meneruskan dendam yang tak diketahui awal dan alasannya. Untuk menjadi anggotapun, harus melalui tahapan-tahapan yang tidak masuk akal menurutku. Tawuran dengan sekolah lain salah satunya. Bahkan waktu aku sudah menjadi alumni, aku mendengar salah satu adik kelasku juga meregang nyawa lewat tawuran pelajar. Bukan hal yang patut dibanggakan tentunya.

Novel ini, aku rasa cukup membantu para “pencari” untuk menemukan kembali tujuan hidupnya. Menyadarkan dan mewakilkan curahan hati para pelajar yang sudah gerah di seragamkan. Menemani menyusun lagi reruntuhan percaya diri tanpa hal-hal negatif yang merugikan. Apalagi ditemani oleh alunan lagu dari Bondan & Fade2Black yang inspiratif.

Hanya saja, menurutku ada beberapa pandangan yang aku rasa terlalu berlebihan. Seperti terlalu menyudutkan posisi guru sebagai pendidik, seseorang yang juga manusia sebagai makhluk tak sempurna. Sedangkan dibalik semua itu, ada sistem yang telah diatur dan membuat pahlawan tanpa jasa itu bagai boneka. Heh, Pahlawan tanpa tanda jasa?

Diluar semuanya, setiap pribadi dirasa perlu untuk berkontemplasi. Apa yang salah dengan bangsa ini? Apa saja kontribusi yang telah dilakukan untuk semua persoalan yang muncul dan kita saksikan?




[1] Tamat halaman 240-241

Rabu, 20 Februari 2013

Menjerat

"Jangan salah paham, aku merindukan kau yang dahulu, bukan kau yang sekarang," - Fiersa Besari

Aduh..... Tetangga sebelah rumah terlalu besar menyalakan radionya. Radio itu terus berkicau, mendendangkan lagu yang tidak jauh-jauh tentang cinta.
Hah, Cinta!

Seketika, lamunan membawaku ke taman indah nan gersang.
***

Sore itu, kami sudah berjanji untuk bertemu. Menyantap senja yang selalu sedap untuk di nikmati.

"Aku udah sampai nih," katamu lewat pesan singkat.
"Aku juga baru nyampe nih, aku duduk di tangga paling depan," Jawabku secepatnya.
"Iya, aku udah lihat kamu," pesan itu membuatku bagai balita kehilangan ibunya.

Tanpa harus lama mencari, kamu telah tergambar di retinaku. Senyumku mengembang.
***

Rindu ini menjeratku, mengembalikanku ke dua tahun lalu.

"Tidak boleh!" Tegasku.

Jumat, 08 Februari 2013

Lirihku

Kamu hanya perlu mengamati hingga saatnya kamu mengerti :)

Lautan, aku mengagumimu.
Namun tak dapat memilikimu.
Aku akan jadi orang yang serakah jika berusaha memilikimu sendiri, menguasai segala keindahanmu.
Jangan marah ya, Kamu jelek kalau marah.

Pelangi, aku penggemarmu.
Mencuri pandang pada langit setelah hujan, aku selalu berharap kamu mengunjungiku.
Ah.... aku lupa, peluangmu untuk melihatku dari atas sana sangat kecil.

Hei senja, katanya kamu menimbulkan polemik untuk para penikmat sekaligus pembencimu.
Tenang senja, aku tetap berdiri di tempat yang sama.
Mengagumimu dalam karya Tuhan.

Sang Pencipta, terima kasih atas semesta yang Kau berikan untuk mendengarkan lirihku. Setia dalam diamnya, Penenang dalam setiap kekalutan.
Tuhan, aku tahu kamu Maha Hebat. Aku selalu tahu itu. Terima Kasih ya :)