Kamis, 02 Mei 2013

Jalan Pulang


"Ikuti kata hatimu, temukan jalan pulang–temukan aku di setiap jejakmu,"

Heilga –

“Kita akan bertemu di ujung jalan sana, saat ini aku harus menapaki mimpiku,” katamu di akhir perjumpaan kita yang akan menjadi awal cerita.
***
365 hari yang lalu, kamu memilih untuk meninggalkanku bersama rasa yang telah lama kita susun.
Hari itu kamu membuat tubuhku tak berdaya, begitu juga hatiku yang terlanjur hancur.

“Apa mimpimu gak ada aku?” tanyaku sendu.
“Bukan begitu, aku takut kamu gak bisa tahan sama keadaan nanti,” jawabmu.
“Kamu yang gak bisa bertahan untuk tetap ada aku!”
Aku marah, pergi dan sebisa mungkin tak menoleh.

Itu pertemuan terakhir kita, 168 jam kemudian kamu pergi menjemput mimpimu.
Tanpa peluk perpisahan dariku.
***
Suatu hari, di batas senja yang menaungi langit kita yang terpisah jarak— aku kembali menyelami dermaga kenangan yang mengabadikan kisahmu, kisahku. Aku rindu kamu.

“Semoga Tuhan selalu mengundur perpisahan kita,” doamu di hari terik dengan semilir angin menggoda di kota kita.
Hanya ku balas senyum, sebenarnya bercampur haru. Dengan perasaan yang berbunga, tak pernah aku berpikir kamu akan tega meninggalkanku.
Kamu menggenggam tanganku, merambat ke hatiku.
***
Lamunanku di teras rumah terhenti saat deringan ponsel mengembalikanku pada kenyataan.
“Aku pulang heilga, aku mau menjelaskan banyak hal sama kamu. Bisa kita ketemu?” tanpa basa-basi suara yang akrab di telinga itu terdengar.
***

Ferno—

“Kita akan bertemu di ujung jalan sana, saat ini aku harus menapaki mimpiku,” kataku di akhir perjumpaan kita yang akan menjadi awal cerita.
***
365 hari yang lalu, aku memilih untuk mengakhiri kebersamanku dengan seorang gadis yang wajahnya selalu dilukiskan oleh langit dikala matahari perlahan pamit.
Hari itu mungkin aku sudah membuat hatinya hancur. Maafkan aku.

“Apa mimpimu gak ada aku?” tanyamu dengan tangis tertahan.
“Bukan begitu, aku takut kamu gak bisa tahan sama keadaan nanti,” jawabku.
“Kamu yang gak bisa bertahan untuk tetap ada aku!”
Kamu marah, pergi Dan tak sedikitpun menoleh padaku.

Itu pertemuan terakhir kita, 168 jam kemudian aku pergi menjemput mimpiku.
Tanpa peluk perpisahan darimu.
***
Suatu hari, di batas senja yang menaungi langit kita yang terpisah jarak— aku kembali menyelami dermaga kenangan yang mengabadikan kisahmu, kisahku. Aku rindu kamu.

“Ferno, kamu yakin gak kalo suatu hubungan akan baik baik saja tanpa komunikasi baik?” Tanyamu di hari terik dengan semilir angin menggoda di kota kita.
“maksudmu?” Aku pura-pura tak mengerti.
“Kamu percaya Long Distant Relationship?” Jelasmu singkat.
Belum sempat mengemukakan pendapatku, kamu sudah menjawab sendiri pertanyaanmu. “Aku enggak,” Tegasmu sembari melempar senyum untukku.

Seketika aku dibungkam oleh senyum indahmu, lenyap semua jawaban yang sedari tadi ingin aku ungkapkan. Kamu memang begitu, selalu membuat aku terhipnotis dengan lengkungan bibir yang kamu sodori.

Heilga, Jika kamu ingat hari itu, tentunya kamu akan mengerti keputusanku untuk meninggalkanmu. Hanya sementara Heilga, sampai aku bisa menaklukan mimpiku dan membangun mimpi baru bersamamu.
***
Hari ini, aku menapaki kembali tanah kota yang pernah kita jejaki. Segera aku mengambil ponsel di kantong celana dan menghubungimu, “Aku pulang heilga, aku mau menjelaskan banyak hal sama kamu. Bisa kita ketemu?”
***
Sampailah kita di ujung jalan, Kamu akan selalu jadi jalan pulang untukku. Kamu akan selalu jadi penuntun jalan untuk hatiku yang tersesat.

3 komentar:

  1. jadi iri sama heilga dan ferno, gw juga mau ketemunya di ujung jalan aja, tapi apa bisa...
    gimana kalo dianya nggak ngerti maksud gw, kayak si heilga, uhuhuhuhu...
    (oh Tatsun tunggu aku di umur 28 pliss)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha tatsun keburu nyari yang lain pil.

      Hapus
  2. aku tetap setia sama ranger ungu :*

    BalasHapus