Senin, 17 Oktober 2011

Jawaban


Mungkin ini hanya sedikit intermezzo dari kepenatan rutinitas saja. Tapi kini aku ingin membahana memperluas lagi angan-angan yang mungkin tidak pada tempatnya.
Hahahaha bolehlah aku atau bahkan kalian tertawa karenanya.
Dari sembilan mata kuliah yang harus aku jalani semester ini, entah mengapa hampir semuanya menanyakan “Cita-Cita”. Hal yang sangat familiar ditelinga, bahkan sejak duduk di sekolah dasar. Pertanyaan itu tidak perlu lagi aku pikirkan, hanya tinggal menjawabnya saja.
Tapi, ada keraguan saat ini yang hadir ketika pertanyaan itu dilayangkan padaku. Mungkin benar kata seorang teman yang mengejekku karena bingung dengan cita-citaku sendiri. “Suram hidup lu gak punya cita-cita.”
Bukan, bukan karena tak ada bayangan sedikitpun yang melintas ketika pertanyaan itu lagi lagi memenuhi ruang pikiranku. Saat ini bukan lagi dilatar belakangi hobi maka aku memilih cita-cita. Tapi lebih kepada kebaikan-kebaikan serta keburukannya, kemudian skill ku. Aku pernah beberapa kali membaca buku yang isinya menganjurkan untuk membagi semua rasa ke setiap makhluk. Aku ingin sekali menjadi penebar kebaikan, tapi apa mediaku?
Aku juga pernah ingin menjadi penyambung lidah untuk orang-orang yang tertindas, tapi skill ku?
Aku tetap belajar untuk itu.
Pernah suatu ketika aku menangis, menangis yang berlebihan. Mungkin amat sangat berlebihan dan pertama kalinya aku lakukan didepan orang lain. Ada rasa yang mendorongku untuk mencurahkannya saat itu juga. Bukan karena kebencianku pada orang yang membuatku menangis, tapi kebencianku pada diriku sendiri yang tidak mampu berbuat apapun. Bahkan untuk membela diriku sendiri. Menyedihkan.
Bagaimana aku bisa membawa kebaikan untuk orang lain, sedangkan untuk diriku sendiri saja aku masih merabah. Tidakkah orang lain lebih iba melihatku?
Sebuah pledoi yang luar biasa memalukan.
Bukan karena takut dikatakan tidak konsisten karena merubah cita-citaku, menurutku hal itu lazim saja dilakukan. Tapi, aku tetap pada cita-cita masa kecilku. Menjadi seorang penulis.
Dengan menulis aku mampu mengabarkan kehidupanku kepada orang-orang setelahku nanti. Mungkin anakku, cucuku, cicitku atau bahkan keturunanku yang ke-7?
Aku mampu mengabarkan kepadanya, bahwa aku ada. Dan mereka bisa mengenalku lewat itu, tulisanku. Tentu saja beriringan dengan terus belajar “menulis”.
Prihal berbagi kebaikan, aku juga mampu melakukannya melalui tulisan. Bukankah banyak pengetahuan yang lahir dari bacaan, sekalipun bacaan tidak penting layaknya tulisan ini?
Hahaha, terlalu banyak tanda tanya dalam tulisan ini. Pada intinya, jika ada yang bertanya padaku tentang cita-cita, maka penulis lah cita-citaku.
Cita-cita….. bukan profesi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar