Minggu, 05 Juli 2015

Hari Itu (Berani Berharap)

Langit sepertinya sedang berselingkuh dengan terik, menanggalkan hujan yang masih bersembunyi dibalik kemarau. Hari itu kali pertama kamu menyambangi kotaku. Seperti banyak orang yang mempersiapkan sesuatu untuk menyambutmu, aku juga sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatanku mengadu nasib di tempat yang belum pernah aku singgahi sebelumnya.
Walau tidak terlalu mengenalmu, aku sedikit tahu tentang sosok yang dielukan banyak orang itu. Sambutan meriah datang bersamaan dengan berita-berita yang santer seantero kota. Kamu memang mengagumkan.
Beberapa hari kemudian...
Senada dengan kesedihan yang dirasakan para penggemar atas kepulanganmu, aku juga harus menggenapkan hati meniti langkah menjauh dari orang-orang yang aku sayangi. “Jangan menangis,” kataku berusaha kuat.
Rabu sore itu, peluk erat seorang Ibu meruntuhkan dinding ketegaran yang telah tertanam sejak aku menetapkan keputusan untuk pergi. Berlatar kesibukan manusia yang hilir mudik mengejar jadwal keberangkatan, aku melenggang sendiri tanpa pantauan keluarga untuk pertama kalinya.
Hey aku melihatmu, kamu berjalan gagah sembari menebar senyum pada setiap orang yang meneriaki namamu. Aku hanya menoleh sebentar dan kembali meratapi kepergianku.
Entah berapa banyak orang yang akan iri, jika mereka tahu tentang seseorang yang duduk tepat di sampingku. Sedikit kaget, aku melempar senyum yang dengan cepat kamu balas.
Perjalanan itu terasa sangat lama saat dijalani hanya dengan berdiam. Untuk itu aku beranikan diri membuka pembicaraan denganmu, “Bagaimana kunjungannya? Menyenangkan?” Tanyaku sok kenal. “Ya, sangat menyenangkan bisa bersenang-senang dan bertemu dengan orang-orang yang ramah,” Jawabmu.
Obrolan itu menjadi panjang dan lebih dalam saat kamu bertanya tentang tujuanku dan apa yang akan aku lakukan disana. Kamu orang yang menyenangkan, tak salah jika banyak orang yang menggilaimu.
Kita sampai pada tujuan yang sama, saatnya berpisah. Lagi-lagi kedatanganmu disambut oleh kerumunan orang. Aku menghilang dibalik sorot pandang orang-orang kearahmu. Semoga bisa bertemu lagi, selipan doa itu begitu saja meluncur bersama mesin yang memutar tasku.
***
Sudah enam bulan aku menjajal peruntunganku sendiri. Aku sering melihatmu, banyak acara yang mengundangmu. untuk pertemuan secara langsung, aku masih menunggu.
Aku berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan baru yang harus aku jalani. Disini cuaca sangat signifikan dengan kotaku, bukan hanya cuacanya saja yang berbeda, banyak hal yang harus aku pelajari untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat aku beraktivitas.
Ini kali pertama kita bertemu setelah hari itu, kamu mengunjungi tempat aku belajar. Karena banyak teman-teman yang mengerubungimu, aku hanya memantau dari kejauhan sembari berharap kamu mengenaliku. Aku keliru.
Terlalu berharap akan menyakiti diriku sendiri, pikirku seiring gontai langkah makin menjauhi keramaian itu. Setelah hari itu, harapanku semakin menipis untuk bisa bertemu denganmu (lagi). Hal itu semakin mungkin saat tugas terus menerus menyita waktu. Cepat pulang–hanya itu yang terlintas diotakku.
***
Dua tahun sudah sejak pertemuan kita dan harapan itu terkikis, aku akan kembali kekotaku dengan membawa rindu tak terbendung untuk keluarga. Langkahku kini semakin kokoh menyokong tas yang penuh berisi.
Menuju tempat armada yang akan membawaku pulang, ku sisipkan membeli beberapa hadiah untuk orang terdekat. Tak terduga, aku melihatmu sedang menjalani wawancara dengan latar jalanan penuh orang berlalu lalang. Mustahil akan berlalu saja saat melihat sosokmu, kerumunan orang kini mendekatimu. Aku diburu waktu.
Setelah menggenapkan daftar belanjaku, aku segera melanjutkan jalan pulang. "Hai, Apa Kabar?" Mungkin itu akan menjadi pertanyaan penutup darimu. Aku harap tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar