Senin, 22 Agustus 2011

Salah itu Benar


Dengan perasaan yang agak berantakan saya memaksakan diri untuk membaca satu buku yang berjudul “Yang Galau Yang Meracau”. Buku yang cukup representative untuk menambah pemahaman tentang hidup ini. Mulai bersemangat untuk melahap lembar perlembarnya. Namun, seketika semuanya terhenti secara spontan. Harus menulis, ini harus saya tulis.


Saya terhenti pada lembar ke-45, kalimat yang membuat saya menyalakan laptop, modem dan menulis. "Kau harus pernah berbuat salah salah untuk menemukan hal-hal baik. kita tidak bisa membedakan mana yang baik dari yang buruk tanpa mengetahui keduanya. itulah sebabnya Tuhan mempersilakan kita bersalah, agar selanjutnya kita terus berjalan dengan kebaikan-kebaikan..."

Luar biasa, pikiran saya langsung menerawang dan menayangkan kejadian-kejadian yang pernah terjadi dan saya lewati. Sebelumnya pun ada kalimat yang membuat saya semakin semangat untuk moving on, “Hidup begitu melelahkan jika kau hanya mengisinya dengan rutuk dan kebencian, pada dirimu sendiri atau orang lain. Segeralah bergerak sebelum semuanya terlambat! Soal risiko, tak ada satupun di dunia ini yang tak memiliki risiko, besar atau kecil, yang harus kita lakukan adalah menabung keberanian dan mengumpulkan kekuatan untuk menyelesaikan risiko-risiko.” Dan dalam waktu menuliskan kembali kalimat tersebut saja, saya memutar otak untuk bisa menyampaikan maksud tersirat saya, yang bersembunyi dibalik kalimat-kalimat indah tersebut pada seseorang. Semoga dia mengerti.

Betapa dangkal pemikiran saya sebelumnya sampai akhirnya saya sadar akan kekeliruan. Tapi, memang harus keliru dahulu kan baru semuanya saya pahami seutuhnya. Hhmm… salah untuk tahu kebenaran. Tapi apa dalam proses menuju kebenaran-kebenaran tersebut semuanya berjalan alami? Dengan bantuan Tuhan?

Yang saya tahu, dan mungkin semuanya tahu hanyalah Tuhan pemilik kesempurnaan. Lalu, bagaimana jika saya juga mau sempurna? Saya mau juga sempurna! Dalam pemikiran dangkal saya sebelumnya, saya hanya berfikir bahwa Tuhan hanya bisa melakukan kebaikan-kebaikan saja tidak dengan keburukan. Namun, lambat laun saya mengerti bahwa tuhan juga mempunyai sifat-sifat buruk meskipun tak ada yang melampaui semua nilai maupun sifat-Nya.

Tuhan memiliki sifat pemurah, pemaaf dsb yang baik. Tapi jangan lupa, Tuhan juga mempunyai sifat pemarah dan pencemburu. Dia akan membalas keburukan dengan keburukan. Tapi itulah yang membuatnya sempurna. SEMPURNA! Karena kesempunaan adalah kolaborasi antara hal yang berlawanan.

Terima kasih untuk buku ini, membuat saya sadar bahwa yang berbeda bukan untuk dihindari, melainkan untuk menjadi teman menuju kesempurnaan :)

2 komentar: